Kamis, 26 November 2009

Teologi dan Spiritualitas


Adanya sesi berdiskusi dalam kelompok saat proses pembelajaran di kelas memberikan kontribusi yang besar bagi saya. Berbagi pemahaman dengan teman-teman berkenaan dengan materi yang disampaikan oleh dosen membuat saya tersadar bahwa tidak ada patokan/parameter khusus ketika berbicara mengenai teologi dan spiritualitas. Teologi dan spiritualitas adalah dua hal yang tidak berada dalam lingkup stagnasi. Dua hal ini mengalami perubahan, bergerak, entah beriringan ataupun tidak, menunjukkan bahwa dinamika yang terbentuk terkadang dilupakan oleh pribadi-pribadi yang bergelut di dalamnya. Teologi dan spiritualitas didefinisikan bermacam-macam oleh para ahli atapun tokoh-tokoh “gereja”. Definisi yang terbentuk tentu saja berangkat dari titik tolak yang berbeda-beda sehingga tak jarang definisi-definisi mengenai teologi dan spiritualitas dapat bersifat kontradiksi satu sama lain atau mungkin juga dapat saling memperlengkapi. Menurut Drewes dan Mojau dalam bukunya yang berjudul “Apa itu Teologi?” terpapar definisi ilmu teologi, yaitu bidang studi ilmiah yang melayani gereja yang diutus ke dalam dunia dalam usahanya untuk memahami dan menghayati karya Allah, sesuai dengan Firman Allah yang hidup; hal ini berarti bahwa ilmu teologi harus secara kritis meninjau praktik dan misi gereja dalam terang kebenaran Firman Allah[1]. Buku ini juga berbicara mengenai spiritualitas. Spiritualitas Kristen mengarahkan pengikut Kristus untuk hidup lahir batin dalam kehadiran Allah, terarah pada damai sejahtera Allah di tengah pergumulan dan penderitaan dunia ini[2]. Definisi yang dipaparkan oleh Drewes dan Mojau nampaknya menunjukkan perbedaan apabila dibandingkan dengan definisi yang dipaparkan oleh Hardjana. Pemaparan Hardjana dalam bentuk tabel[3] menunjukkan secara gamblang bahwa penghayatan agama sangatlah berbeda dengan penghayatan spiritualitas. Apabila digambarkan dengan “diagram Venn”, pemaparan Hardjana tentang agama dan spiritualitas berbentuk dua lingkaran yang berdempetan namun tidak ada bagian yang saling mengiris. Bagian yang berdempetan ini menggambarkan bahwa ada bagian yang sama yaitu faktor/unsur pembedanya (suatu istilah dalam klasifikasi) saja. Dalam hal ini, agama dapat disejajarkan dengan posisi ilmu teologi, karena ilmu teologi juga dapat diidentikkan dengan agama. Dengan demikian pemaparan Hardjana dapat dibandingkan dengan pemaparan Drewes dan Mojau. “Diagram Venn” yang digunakan untuk menggambarkan posisi teologi dan spiritualitas menurut Drewes dan Mojau menghasilkan gambar dua lingkaran, dimana lingkaran kecil (yaitu: spiritualitas) berada di dalam lingkaran besar (yaitu: ilmu teologi). Diagram ini memiliki arti bahwa di dalam ilmu teologi terdapat spiritualitas (dengan seluruh keberadaannya; utuh). Yang berada di luar lingkaran kecil adalah kaidah-kaidah/syarat-syarat yang bersifat ilmiah, sesuai dengan definisi yang diberikan oleh Drewes dan Mojau bahwa ilmu teologi adalah bidang studi ilmiah. Pemahaman seperti ini adalah hasil diskusi kelompok saya, yang berbeda dengan hasil diskusi kelompok lain. Hal ini memperkuat pernyataan bahwa ada dinamika pada teologi dan spiritualitas.

Penghayatan saya mengenai agama dan spiritualitas mengalami perubahan semenjak berstudi di fakultas theologia. Pada dua semester awal, saya mengalami “Darkness of the Soul” (sebuah istilah yang terdapat dalam artikel mengenai kisah Mother Teresa yang selama masa pelayanannya ternyata mengalami “Darkness of the Soul”; dengan kata lain: tidak merasakan dekat dengan Tuhan, Tuhan serasa tidak hadir dalam hidupnya). Namun seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal menempa saya, penghayatan saya mengenai teologi dan spiritualitas mengalami pergeseran yang mencolok saat menginjak semester tiga. Seperti dalam diagram Venh yang kelompok saya gambarkan untuk definisi teologi dan spiritualitas menurut Drewes dan Mojau, saya merasakan bahwa unsur spiritualitas sangatlah diperlukan dan dapat saya rasakan ketika belajar ilmu teologi. Namun, saat ini saya baru tersadar bahwa teologi dan spiritualitas dapat bergerak leluasa tanpa bisa “dipagari”. Penghayatan bahwa di dalam ilmu teologi ada unsur spiritualitas hanya bertahan selama satu semester. Menginjak semester yang keempat ini, saya kembali merasakan “Darkness of the Soul”. Datang ibadah pagi setiap hari, datang ibadah malam, berdoa rutin, membaca buku renungan rutin, seharian di gereja pada hari Minggu (tuntutan pelayanan, bahkan seringkali saya dituntut menghadiri tiga kali jam kebaktian karena di tiap jam kebaktian ada tugas pelayanan) tetap saja belum dapat mengembalikan “cahaya dalam jiwa” saya. Sebuah pertanyaan juga sekaligus sebuah perenungan bagi diri saya pribadi, “Akankah darkness of the soul ini cepat berlalu daripadaku?”.

[1] Drewes, B.F, Julianus Mojau. 2007. Apa itu Teologi?. Jakarta: BPK Gunung Mulia. p. 17
[2] Ibid. p. 29
[3] Hardjana, Agus M. Religiositas, Agama, dan Spiritualitas. Yogyakarta: Kanisius, 2005. p. 74

Tidak ada komentar:

Posting Komentar