Kamis, 26 November 2009

JURNAL HARIAN 3



Jumat, 26 September 2008
Hari paling menyenangkan dalam hidupku!!!! Pulang ke rumah!!!! Surabaya… I’m coming… Jauh-jauh hari kupersiapkan tiket pulang… Naik travel donk… Namun nampaknya travel yang mengantarkanku pulang ini tidak seperti travel biasanya. Fiuh… Travel berhenti… Ngga bisa nyala lagi mesinnya… Waduh!!! Kami berhenti di Mantingan… Berjam-jam… menunggu “bala bantuan” datang. Ouchhhh… membuatku sangat geram!!! Wah sekali lagi aku dapat kesempatan untuk menguji kesabaranku… Sabar… sabar…

Sabtu, 27 September 2008
Pukul 04.45 aku tiba di rumah… Sangat menyenangkan!!!! Bertemu dengan ortu dan adikku. Biasanya sih kalau aku datang, pasti orangtuaku mengajakku pergi, entah itu ke mall atau outlet, pokoknya untuk jalan-jalan, shopping, makan, nonton di XXI, dll, dsb, yang menyenangkan J. Namun tampaknya kali ini agak sedikit berbeda, karena orangtuaku mengantar adikku me-modif motornya!!!! Rrrrgggghhhh!!! Well… sepertinya kali ini aku diberi kesempatan untuk tidak berlaku egois dan juga iri hati… hehehehe…

Minggu, 28 September 2008
Hari yang menyenangkan… J menginjakkan kaki lagi di gerejaku… Setelah sekian lama tidak bertemu dengan jemaat di sini… Para penatua menyambutku dengan penuh kehangatan dan kasih… Ohhhh, ingin rasanya aku tetap di sini bersama mereka… Inilah yang membuatku kembali bersemangat kuliah, mereka menantiku…

Senin, 29 September 2008
The day I’m afraid of is coming… Besok malam aku kembali ke Jogja… Oh tidak!!! Padahal aku masih sangat kangen dengan rumah… Aku puaskan berkumpul dengan keluargaku… Masak bareng… Makan bareng… Nonton TV bareng… Ngobrol-ngobrol… Menyenangkan!!! Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang seperti ini…

Selasa, 30 September 2008
Packing…packing… Bersiap untuk kembali ke Jogja… Fiuh… Pukul 22.00 aku berangkat… Travel yang kunaiki ini bukan travel langgananku… Ohhh… Bapak sopirnya mengantuk, berkali-kali berhenti untuk minum dan beristirahat… Menyetirnya pun ga karuan… OMG!!! Menakutkan… Aku hanya bisa berdoa, meminta padaNya agar bapak sopirnya bertahan sampai asrama… Thx GOD…
Rabu, 1 Oktober 2008
Pukul 04.40 aku tiba di asrama. Rupanya Pak Ranto sedang membuka gerbang, sehingga aku tak perlu menelpon asrama untuk membangunkannya. Sepi…sangat sepi… Teman-teman masih berlibur… Sendirian di kamar membuatku nyaman, karena inilah saat yang tepat untuk berkontemplasi…

Kamis, 2 Oktober 2008
Asrama masih saja sepi… Sedihnya… Memang sich tiap malam ada acara nonton bareng… Ah tapi malah bikin ngantuk… lebih baik di kamar saja… Ada hal yang lebih penting untuk dilakukan… Mengerjakan tugas yang dikumpulkan hari Senin… Ngga ada salahnya bersusah-susah di sekitar teman-teman yang sedang bersenang-senang…

Jumat, 3 Oktober 2008
Seharian dengan teman kamar… J menyenangkan…

Sabtu, 4 Oktober 2008
Seharian dengan teman kamar… J menyenangkan…

JURNAL HARIAN 2


Jumat, 19 September 2008
Lagi-lagi ada saja yang mengharuskan aku berangkat ke kampus di pagi hari. Seharusnya hari ini kuliah pukul 13.30, namun ada kelas pengganti hari Senin pada pukul 07.30. Untunglah kelas di pagi hari ini sangat menyenangkan, karena waktunya untuk presentasi metode mengajar Sekolah Minggu dan juga metode membawakan Pemahaman Alkitab, dengan menggunakan literasi informasi. Dari presentasi kelompok-kelompok lain, pengetahuanku mengenai Sekolah Minggu dan Pemahaman Alkitab menjadi bertambah luas karena ternyata masih banyak sekali metode-metode kreatif yang belum sempat terpikirkan sebelumnya, dan kesemuanya itu sangat berguna bagiku dalam merealisasikannya di kehidupan pelayanan gereja.

Sabtu, 20 September 2008
Senin lusa adalah deadline pengumpulan matriks “Perkembangan Manusia” (mata kuliah Pendidikan Kristiani). Dengan adanya tugas ini, aku menyadari banyak hal penting. Pertama, konsentrasi penuh di tiap pertemuan kuliah ini membuahkan hasil, membuat aku dapat dengan mudah menuangkannya kembali pada tugas ini dan tidak harus membaca lagi buku-buku bahan kuliah. Kedua, membuatku belajar bersabar dalam mengerjakan detil-detil tugas ini. Ketiga, mengasah kreativitasku dalam menyajikan matriks. Kebanyakan dari teman-teman mengerjakannya di kertas folio bergaris, namun aku berani tampil beda dengan mengerjakannya di karton asturo berwarna dengan ditempel berbagai gambar yang mendukung. Keempat, melatih kepercayaan diriku dalam mengekspresikan suatu karya, karena matriks yang kubuat ini agaknya berbeda dengan milik teman-teman. Aku yakin kok kalau keempat hal ini akan membuahkan hasil yang sempurna……. AMIN!!!!

Minggu, 21 September 2008
Kebiasaan burukku terjadi (lagi!!!). Aku datang ke Kebaktian Ekspresif GKI Gejayan pukul 12.00 (rencananya) untuk menikmati dan juga mengkritik band/songleader yang melayani. Soal band, not bad lah!! Lumayan… Namun, songleader… GARING ABIZ!!! Hrrrr… tidak ada yang bisa kuharapkan dari serentetan lagu-lagu yang dinyanyikan, karena dibawakan dengan sangat membosankan… L Satu-satunya harapan adalah FIRMAN!!! Untung saja pelayan firman membawakan kotbah dengan sangat menarik, baik dari segi penafsiran maupun relevansi.

Senin, 22 September 2008
Mata kuliah yang sebenarnya membuatku sangat enggan untuk hadir adalah BAHASA INDONESIA!!! Rrrrggghhh… Namun hari ini membuatku mengubah paradigma yang kupunyai, ternyata mata kuliah yang (seakan) remeh ini sebenarnya memberikan sumbangsih yang besar bagi proses studiku. Pada mata kuliah ini, terdapat tugas membuat makalah. Kelompokku mengangkat topik mengenai konseling. Dan itu menyenangkan!!! Aku akan mencoba mengerjakannya dalam waktu dekat ini supaya liburanku juga menyenangkan… J

Selasa, 23 September 2008
Pemahaman Alkitab pada hari ini menarik (sebenarnya), karena membahas mengenai doa yang tidak jemu-jemu. Namun, pernyataan dari temanku (yang memimpin PA pada hari ini) membuatku tergelitik. Dia berkata “Semoga kita semua dapat berdoa dengan tidak jemu-jemu agar kita dapat mengerti kehendak Allah”. OUCCCCHHHH!!!! Mengerti kehendak Allah?!?!!

Rabu, 24 September 2008
Berbicara mengenai Komunitas Iman (mata kuliah Pendidikan Kristiani) membuatku membuka mata dan telinga lebar-lebar. Pokok bahasan ini sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Terkadang aku pun memang berkomunitas, namun apakah komunitasku ini sudah benar-benar dapat dikatakan sebagai komunitas? Karena di dalam komunitas haruslah ada SALING… Berbeda dengan komunitasku di asrama yang nampaknya tidak selalu ada SALING…

Kamis, 25 September 2008
Pukul 09.10 aku keluar dari kelas dengan perasaan sangat jengkel dan dengan segera menuju ke biro I bagian presensi. Aku merasa ditipu!!! Rabu minggu lalu, petugas biro I telah berjanji padaku untuk meng-input-kan namaku di 8 mata kuliah yang kuambil (namaku tidak tertera di daftar absensi karena pembayaran yang terlalu dini!!!!). Namun, ternyata… JANJI PALSU!!! Namaku tetap tidak ada di daftar presensi. Aku merasa jengkel!!! Lagipula MASA MEMBAYAR TERLALU DINI DISAMAKAN DENGAN MEMBAYAR TERLAMBAT/TIDAK MEMBAYAR?????? (sama-sama tidak ada dalam presensi).
Ah sudahlah… Sudah beres… aku sudah mengkonfirmasikan ke biro I. Memang sih, emosiku meledak-ledak hari ini. Mungkin aku dituntut untuk belajar bersabar… J

JURNAL HARIAN (yang tidak kusangka masih tersimpan)


Kamis, 11 September 2008
Keengganan terjadi saat beranjak dari ranjang nyaman tempatku beristirahat, karena aku teringat sesuatu… dan sesuatu itu sangat penting… yaitu… HARI INI HARI KAMIS!!!!! Oh noooooooo!!! Mungkin bagi teman-teman lain, hari kamis adalah hari yang “mulia” … tidak ada kuliah… namun yang sebaliknya terjadi padaku… Kuliahku mulai pada 07.30 sampai dengan 15.20, dengan jadwal bus pulang 15.30 sehingga sampai di asrama sekitar pukul 16.00. Tidak berhenti sampai di situ (karena apabila sampai di sini saja, sama seperti hari-hariku Senin sampai Jumat yang selalu kuliah mulai 07.30-15.20). Pukul 16.30 aku harus datang ke kapel… membawa partitur dan KJ empat suara… apalagi kalau bukan pembinaan vokal… Menyenangkan sih… Namun… tidak berhenti sampai di sini… pukul 19.00 aku harus memasuki kapel (LAGI!!) untuk pembinaan terstruktur… FIUHHH… Dari terbit matahari sampai pada masuknya!!!
Lelah… pastinya… Berkaca dari 1 Korintus 16:14 “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (yang mungkin memang situasi dan kondisiku berbeda dengan konteks situasi dan kondisi jemaat di Korintus), namun apabila direfleksikan secara hurufiah, maka ayat inilah yang akan menguatkanku melewati seluruh aktivitasku di hari-hari kamis mendatang… Dalam kasih, pastinya tidak akan ada rasa bersungut-sungut ataupun terpaksa… Karena dalam setiap pekerjaan, disadari ataupun tidak, aku berelasi dengan orang lain… Jika dikerjakan dalam kasih, maka orang lain yang berelasi denganku akan bersukacita dan mungkin membuatnya kuat dalam mengerjakan pekerjaannya. Dengan kata lain, aku juga akan dapat berguna bagi orang lain di saat aku sedang berjerih lelah mengerjakan “bagian”ku.

Jumat, 12 September 2008
Datang ke acara “IKATAN” (Ibadah Kasih Awal Tahun Ajaran) di GKI Gejayan sangatlah mengasyikkan. Tidak hanya mendengarkan firman, namun juga mendapatkan teman-teman baru.

Sabtu, 13 September 2008
Hari yang mengasikkan untuk memanjakan diri, namun tak dapat kulakukan. Bangun di pagi hari, membuka mata, langsung menyambar sapu untuk menyapu lantai kamar dan menyambar pel serta superpell untuk mengepel lantai kamar. Setelah kamar bersih, waktunya untuk mencuci pakaian. Fiuh… Mungkin terlihat bodoh… (bisa laundry, kenapa tidak?). Namun ada hal lain yang membuat saya bersikeras untuk tetap mencuci sendiri… “Ada kepuasan tersendiri” jika memakai baju hasil mencuci dan menyetrika sendiri… Mungkin juga saya dapat belajar makna terpendam dari sebuah kesederhanaan…

Minggu, 14 September 2008
Mengampuni adalah sebuah pertanggungjawaban adalah tema kotbah minggu ini. Agak sedikit membosankan (mungkin)… karena mengampuni adalah hal yang sering dipergunjingkan orang, namun sampai saat ini aku belum merasakan makna terdalam dari sebuah pengampunan (melalui pengalaman). Mengampuni orang lain yang pernah menyakiti hatiku? Ya gitu-gitu aja… Nothing special…

Senin, 15 September 2008
^o^ menyenangkan…

Selasa, 16 September 2008
^o^ menyenangkan…

Rabu, 17 September 2008
Mengurangi waktu tidur malam? Tentu saja harus sering kulakukan semester ini sebagai akibat dari 23 sks yang kuambil (belum lagi 4 sks di asrama). Pukul 01.30… baru kurebahkan badanku dan kupejamkan mataku… setelah mengerjakan semua tugas kuliah (yang sebenarnya masih dikumpulkan untuk minggu depan). Aku percaya kok kalau jerih lelahku pastilah tidak sia-sia J.

Kamis, 18 September 2008

Hari ini… hal bodoh (mungkin) yang akan selalu terulang pada hari kamis… Setelah mengikuti mata kuliah Hermeneutik PB II, aku harus mengikuti mata kuliah Pengantar Hermeneutik PB… Uhhhh… Boring… Namun, aku selalu berkata pada diriku sendiri bahwa setia pada perkara-perkara kecil tidak ada ruginya, karena pasti akan ada perkara besar yang menanti. Dan itu semua pastilah sangatlah berguna bagiku di dalam hidup berproses saat ini.

Pendidikan Moral untuk Anak: Perlu versus Harus




Pendahuluan

Di era serba canggih saat ini, tantangan bagi kehidupan anak semakin kompleks apabila ditinjau dari beragam sisi. Kekompleksan tantangan tersebut mempengaruhi perkembangan anak, termasuk perkembangan secara moral. Berbicara mengenai moral secara umum, tidak dapat tidak membicarakan perihal tingkah laku karena tingkah lakulah yang dapat mengekspresikan bagaimana moral seseorang. Demikian pula yang terjadi pada anak. Dapat dilihat dari kenyataan yang ada bahwa tidak jarang ada anak yang diberi label “anak baik”, namun ada pula yang diberi label “anak nakal”, dsb. Pelebelan ini merupakan akibat dari tingkah laku dalam keseharian yang ditunjukkan oleh mereka; yang kemudian kembali lagi pada persoalan moral. Lalu, apakah moral itu? Adakah definisi yang dapat diberlakukan secara umum? Adakah parameter tersendiri dalam menilai moralitas seseorang? Bagaimana dengan anak sebagai subjek kajian dalam pembahasan mengenai moral?

Dalam perkembangan anak, input yang diberikan pada anak akan tertanam pada dirinya dan akan terlihat input apa saja yang telah diterima dari outputnya. Lalu, apakah pembahasan mengenai moral anak penting untuk dilakukan? Apakah moral yang ditanamkan pada anak baik oleh orangtua maupun guru merupakan bagian dari pendidikan? Perlu diingat bahwa keseragaman rentang usia bagi yang tergolong dalam kategori anak perlu juga mendapatkan sorotan selain sekadar menyoroti persoalan moral sebagai pendidikan, karena dalam tiap rentang usia memiliki kekhasan kemampuan masing-masing ditinjau dari banyak segi.


Moral: sebagai Misteri dan Kriterianya

Standar moral pribadi tidak bisa sama persis dengan standar moral yang dimiliki oleh oranglain. Namun sekalipun terdapat perbedaan, nampaknya tetap ditemukan adanya persamaan, seperti misalnya “mengutuk” sikap kekejaman, pengkhianatan, menipu, mencuri, membunuh, dsb. Memang apabila dikaitkan dengan bidang “ilmu” lain seperti etika, maka sikap-sikap yang sepertinya “tidak baik” dapat diterima keberadaannya dengan adanya berbagai pertimbangan tertentu. Terlepas dari hal itu, moral mendapat tempat yang khusus dalam kehidupan; sekalipun “tempat” yang dimaksud tidak spesifik dapat dijelaskan. Tidak satupun anak dapat mengingat pertama kali memulai untuk melakukan pertimbangan berkaitan dengan persetujuan atau penolakan moral[1]. Secara berangsur-angsur ketika beranjak dewasa, anak mulai membedakan persetujuan dan penolakan atas dasar moral dengan persetujuan dan penolakan yang berdasarkan atas dasar yang lain; seperti yang telah sempat disinggung di atas.

Kode moral implisit mungkin telah ada selama berabad-abad sebelum kode moral tersebut dibuat eksplisit. Dan lama sebelum kode moral tersebut pertama-tama dibuat eksplisit, dalam percakapan maupun tulisan, dalam peribahasa, perintah, atau undang-undang, orang mulai berspekulasi tentang hal tersebut, dan mulai secara sadar mencari penjelasan atau rasionalitas umum. Bagaimana kode moral muncul? Dan bagaimana orang mengetahui bahwa tindakan tertentu itu “benar” atau “salah”? Ada teori yang mengatakan bahwa tindakan tertentu itu “benar” dan yang lain “salah” karena Tuhan yang menyatakan demikian. Tindakan tertentu menyenangkan Tuhan dan tindakan yang lain tidak menyenangkanNya. Tindakan tertentu diberi pahala oleh Tuhan, di dunia ini dan di kehidupan sesudah mati, dan tindakan tertentu akan dihukum oleh Tuhan, di dunia ini dan di kehidupan sesudah mati[2]. Teori ini memunculkan pertanyaan, apakah kode moral ini bersifat arbitrer?

Setiap orang, termasuk anak, di dalam momennya yang rasional mencari kebahagiaan jangka panjangnya sendiri. Inilah kenyataannya. Manusia menemukan bahwa aturan tindakan tertentu itu meningkatkan kebahagiaan jangka panjang, baik bagi individu maupun masyarakat. Aturan tindakan ini disebut aturan moral[3]. Lalu, apakah anak telah mulai menyadari bahwa aturan moral “baik” bagi kelangsungan hidup mereka? Di sinilah tantangan sekaligus kewajiban orangtua, wali anak, maupun guru dalam mendidik anak dari segi moral.


Menanamkan Moralitas yang “Baik” dalam Diri Anak

Mendidik anak secara moral bukanlah hal yang mudah. Pendidikan semacam ini sepertinya terlepas dari segi kognitif, namun apabila ditelaah lebih lanjut justru moral terkait erat dengan segi kognitif anak. Berbicara mengenai pendidikan, juga berbicara mengenai tingkat kecerdasan murid. Terbukti dengan adanya sistem “peringkat”, “ranking”, dsb. Kecerdasan bukan hanya terdapat pada segi kognitif, tetapi juga pada segi moral. Kecerdasan moral dihidupkan oleh imajinasi moral, yaitu kemampuan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah dengan menggunakan sumber emosional maupun intelektual pikiran manusia.[4]

Tidak ada masa kanak-kanak yang sempurna. Masa kanak-kanak memiliki keterbatasan terkait dengan keterlibatan orangtua dalam mendidik. Tipe pengasuhan orangtua terkait dengan pendidikan moral bagi anak digolongkan menjadi tiga tipe: Autoritarian, Permisif, dan Autoritatif[5]. Orangtua yang digolongkan dalam tipe autoritarian adalah orangtua yang sangat keras, dan tampak sangat kuat dan mengancam dalam beberapa hal. Anak dipaksa untuk menerima nilai-nilai yang mereka ajarkan dan mematuhi cara mereka melakukan segala sesuatu pada setiap saat. Orangtua menetapkan peraturan rumah yang keras dan sulit dipatuhi terutama pada saat anak bertambah besar dan kebutuhan anak mulai berubah. Anak merasa bahwa orangtua mengalami kesulitan dalam memahami dan menerima anak. Lain halnya dengan orangtua yang bertipe permisif membuat suasana rumah yang penuh dengan rasa cinta, namun sama sekali tidak ada aturan dan disiplin sama sekali. Hanya sedikit permintaan dan batasan/larangan yang dikenakan pada anak. Anak tidak pernah dihukum atau diberi hadiah. Hidup dalam rumah tangga yang permisif semacam itu agak sulit dan membingungkan. Orangtua yang bertipe autoritatif mengajar anak dengan banyak cara. Mereka mengajar anak bagaimana berlaku secara dewasa dan dengan cara bertanggungjawab. Orangtua sangat mencintai dan mengungkapkan afeksi kepada anak. Anak merasa orangtua benar-benar mendengarkan anak dan mendorong anak untuk berpikir sendiri. Aturan-aturan yang diberlakukan di rumah cukup beralasan serta didasarkan pada usia dan kebutuhan khusus anak. Aturan tersebut berkembang seiring perkembangan waktu untuk memberi kesempatan kepada anak lebih bebas dan bertanggungjawab. Ada beberapa konsekuensi bila anak melanggar peraturan, namun tingkah laku anak lebih sering dihargai daripada dihukum. Anak tumbuh dengan keunikan rasa sebagai pribadi dan dengan kecakapan untuk menjadi mandiri.

Didikan orangtua sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral anak. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa didikan yang berbeda-beda tersebut sesuai dengan karakter orangtua. Orangtua memiliki “kedaulatan” dalam mendidik anak(-anak) mereka, yang dilakukan demi kebaikan anak. Dalam proses pendidikan tersebut, apakah anak menyadari bahwa itu semua demi kebaikan mereka? Lalu bagaimana dengan lingkungan sekitar anak di luar keluarga? Contoh: di sekolah. Seberapa berpengaruh terhadap anak? Orangtua memiliki tanggungjawab yang besar dalam mendidik anak karena selain “memperhatikan” anak di rumah, orangtua juga sepatutnya “memperhatikan” lingkungan bergaul anak. Sedikit banyak apa yang ditanamkan oleh orangtua di rumah akan terlihat dari tingkah laku anak saat anak bergaul dengan lingkungan sekitar. Timbul pertanyaan, siapakah yang menilai tingkah laku anak? Seberapa berpengaruh tingkah laku yang “baik” bagi kehidupan anak? Dan begitu pula sebaliknya, seberapa berpengaruh tingkah laku yang “tidak baik” bagi kehidupan anak?


Orangtua dan Anak

Menjadi orangtua merupakan sesuatu yang alamiah[6]. Bahkan dapat dikatakan bahwa menjadi orangtua merupakan “panggilan alam” yang diterima oleh mereka yang hidup berkeluarga. Tetapi hal yang tampak alamiah dan sederhana itu ternyata tetap saja mengandung banyak persoalan bila tidak diatur dengan baik. Kasih sayang dari orangtua menjadi modal dasar yang akan berpengaruh besar pada perkembangan moral anak. Anak yang hidup dalam asuhan penuh kasih dan perlindungan akan berkembang menjadi pribadi yang sehat, berkepribadian, dan mencintai serta menghormati orangtuanya. Sebaliknya anak yang hidup dalam tekanan, kekerasan, atau kebencian akan tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah. Adanya keterbatasan itu tidak menjadikan seseorang menjadi tidak berkembang. Hal ini justru dapat menjadi tantangan bagi kedua belah pihak untuk terus mengembangkan diri dengan saling memberi dan menerima.

Anak adalah putra-putri kehidupan para pemilik masa depan. Mereka harus dipersiapkan dengan dikasihi dan dididik menjadi diri mereka sendiri karena kelak tumbuh dewasa dan mandiri. Idealitas orangtua selalu ditempatkan dalam konteks hubungan antara orangtua anak dan lingkungannya yang dinamis sesuai perkembangan zaman. Orangtua tidak dapat memaksa anak menjadi seperti apa yang mereka inginkan, tetapi tidak menutup kemungkinan anak akan meniru tingkah laku “baik” dari orangtua. Oleh karena itu apabila orangtua menginginkan anak bermoral “baik”, tetapi tingkah laku yang ditunjukkan orangtua pada anak tidak demikian, maka apa yang orangtua tanamkan pada anak melalui perkataan ataupun aturang-aturan yang dibuat sedemikian rupa adalah hal yang tidak berarti. Tingkah laku orangtua digunakan anak sebagai cermin bagi hidup mereka. Anak beranggapan orangtua adalah figur yang “baik”, yang selayaknya dicontoh. Namun memang tidak menutup kemungkinan bahwa orangtua bertingkah laku “tidak baik”, sedangkan anak mendapatkan input dari luar rumah dan telah dapat menetapkan parameter bagi tingkah laku orangtua mereka sendiri. Anak juga dapat menilai tingkah laku orangtua mereka dan bisa jadi anak sadar apa yang “baik” sehingga tidak mengikuti tingkah laku orangtua mereka. Inilah yang disebut dengan kecerdasan moral.


Penutup

Anak menyerap berbagai input dari lingkungan sekitarnya seringkali terlambat untuk disadari oleh orangtua. Orangtua boleh jadi baru menyadarinya ketika anak menunjukkan tingkah lakunya. Tingkah laku “tidak baik” yang ditunjukkan anak berkemungkinan berasal dari orangtua mereka sendiri, atau dari lingkungan sekitar di luar rumah. Pendidikan moral bukan hanya perlu untuk diberikan pada anak, namun merupakan sebuah keharusan. Apabila pendidikan moral bagi anak telah dipandang sebagai sebuah keharusan dan telah dilakukan sebagai wujud tanggungjawab orangtua terhadap anak, tetap saja tidak menutup kemungkinan tingkah laku anak dapat berbeda dengan apa yang ditanamkan oleh orangtua. Inilah kenyataan yang ada. Anak hidup di tengah dunia yang “keras”, yang dapat menjadikan anak sebagai korban yang mengadopsi tingkah laku orang-orang di lingkungan sekitar. Orangtua memang berperan penting dalam mendidik anak secara moral, namun tetap kembali pada diri anak masing-masing yang menerima input; apakah mampu mengolah apa yang didapat dan mampu mengaktualkannya dalam tingkah laku keseharian. Kembali pada persoalan kecerdasan moral, yang memiliki tingkatan yang berbeda-beda pada setiap anak. Namun, kecerdasan moral dapat “dipaksakan” untuk “naik tingkat” seperti halnya ketika anak menginginkan ranking yang lebih baik maka harus belajar lebih giat.


Daftar Pustaka

Budiman, Leila Ch. 1999. Menjadi Orangtua Idaman. Jakarta: Kompas.

Coles, Robert. 1997. Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Hazlitt, Henry. 2003. Dasar-dasar Moralitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lighter, Dawn. 1999. 50 Cara Efektif Menanamkan Tingkah Laku Positif pada Anak. Yogyakarta: Kanisius.

[1] Lih. Dasar-dasar Moralitas. p. 10
[2] Lih. Dasar-dasar Moralitas. p. 11
[3] Ibid. p. 12
[4] Lih. Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak. p. 3
[5] Lih. 50 Cara Efektif Menanamkan Tingkah Laku Positif pada Anak. p. 18-19
[6] Lih. Menjadi Orangtua Idaman. p. vii

Finding God in All Things versus Finding All Things in God


Pendahuluan

Kehidupan terus bergulir tanpa mempedulikan apakah manusia, yang menjalani kehidupan itu sendiri, mempedulikan keberadaan kehidupan. Demikian halnya dengan manusia, tidak jarang pula menganggap kehidupan sebagai suatu hal yang patut atau sewajarnya bergulir, entah ditemukan makna di dalamnya, ataukah ditemukan keterlibatan Allah di dalamnya, ataukah malah tidak ditemukan hal yang berarti; dengan kata lain tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam diri manusia juga terdapat sikap acuh atau tidak peduli terhadap kehidupan. Beragam kemungkinan peristiwa dapat terjadi dalam hidup manusia, dan beragam pula kemungkinan cara yang dilakukan manusia untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya tersebut. Barangkali kenyataan mengenai adanya ketidakpedulian manusia pada kehidupan adalah akibat dari sifat dasar manusia, yaitu berkehendak bebas. Kehendak bebas yang dimiliki oleh manusia bukanlah berasal dari dirinya sendiri, melainkan berasal dari Allah, sebagai Sang Pencipta; berkaca dari kisah Adam dan Hawa yang “dengan sukses” memakan buah pengetahuan, inilah bentuk pernyataan bahwa Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebasnya. Allah telah melarang manusia untuk memakan buah tersebut, namun mengapa manusia dapat “dengan sukses” memakannya? Kehendak bebas, ya kehendak bebas-lah yang mampu memberi jawab atas pertanyaan tersebut. Namun yang menjadi persoalan adalah bukan mengenai keberadaan kehendak bebas dalam diri manusia dalam mengarungi kehidupan, melainkan mengenai adanya “penyelewengan” pemberian Allah pada manusia berupa keberadaan yang berkehendak bebas yang dijadikan sebagai legitimasi bahwa manusia berhak untuk melakukan apa saja dengan sesuka hati dalam mengarungi kehidupan. Apakah demikian yang dikehendaki oleh Allah sebagai Sang Pencipta?

Kealpaan Kehidupan

Apabila membicarakan perihal kehidupan manusia, sudah dapat dipastikan tidak akan pernah ada habisnya, karena memang sangat beragam peluang atau kemungkinan peristiwa yang terjadi pada hidup setiap orang. Tiap-tiap orang memiliki persoalan hidup masing-masing, dan persoalan hidup yang muncul, disadari maupun tidak, memiliki konsekuensi lahirnya respon, dalam hal ini respon yang “ideal” adalah berupa penyelesaian dengan cara tertentu, dengan pertimbangan tertentu, maupun berupa “masukan” dari oranglain. Demikian halnya dengan keberhasilan-keberhasilan yang mampu diraih oleh tiap orang, juga berkonsekuensi lahirnya respon. Respon yang ditimbulkan dapat berupa keadaan bahagia, bangga, dsb. Yang menjadi persoalan adalah apakah manusia menyadari bahwa kehidupan yang dialami, yang penuh dengan persoalan hidup dan juga penuh dengan keberhasilan, seringkali mendapat “tempat ke-sekian” bahkan dianggap sebagai hal yang wajar dan sepatutnya bergulir. Memang, kehidupan tidak menuntut adanya “penghargaan” terhadap dirinya; “penghargaan” di sini adalah berupa pemaknaan, dimana pemaknaan hidup pasti erat kaitannya dengan Allah yang dikenal sebagai Sang Pencipta, namun apakah esensi dari hidup apabila hidup hanya dipahami sebatas pada “kegiatan berbahagia atas keberhasilan” ataupun “kegiatan menyelesaikan persoalan”? Apakah keengganan memaknai hidup berhasil dilegitimasi oleh isi dari kitab Pengkhotbah bahwa segala sesuatu adalah sia-sia? Ataukah memang hidup itu sukar untuk dimaknai dengan argumen bahwa Allah sebagai “pihak” yang akan dimaknai juga sukar untuk “ditemui”? Di manakah Allah ketika kehidupan manusia terus bergulir tanpa dapat dihentikan walau sekejap saja? Di manakah Allah ketika manusia mulai sadar akan keberadaan hidup yang perlu untuk dimaknai? Apakah Allah enggan untuk “ditemui” oleh manusia? Apakah karena Allah sudah terlalu nyaman berada di “KerajaanNya” sehingga enggan untuk “ditemui”? Ataukah semuanya ini adalah kesalahan manusia? Bisa saja manusia mencari Allah di tempat yang salah. Atau bisa jadi manusia mencari “allah” yang salah? Lalu, di manakah “tempat” menemukan Allah? Apa saja yang harus dilakukan manusia guna menemukan Allah? Kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh manusia agar dapat menemukan Allah?

Tinjauan Teologis-Reflektif

Di manakah Allah? Apa yang Allah lakukan dan kerjakan “di atas sana”? Apakah bekerja di alam semesta ciptaanNya demi kebahagiaan dan damai sejahtera bagi manusia, seperti yang telah direncakan dari semula?[1] Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah Allah tidak dapat mengerjakan kebahagiaan dan damai sejahtera bagi manusia sambil menemui manusia? Pertanyaan ini apabila ditelaah lebih lanjut sebenarnya merupakan pertanyaan retoris, dimana pastilah menghasilkan jawaban “dapat”. Allah adalah Allah yang “Maha…”, segala sesuatunya dapat dilakukan, tentunya termasuk hal tersebut di atas. Pertanyaan ini juga dapat menghasilkan jawaban yang kontradiktif dengan jawaban pertama. Jawabannya adalah “Mana buktinya?” karena dalam kenyataannya, Allah sukar untuk ditemui oleh manusia.

Kembali pada kenyataan bahwa Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, maka nampaknya Allah ingin “menunggu” manusia agar tidak hanya berinisiatif menemukan Allah namun juga memikirkan berbagai macam cara untuk menemukan Allah, ataukah mencari Allah di manapun manusia berniat untuk mencari. Kehendak bebas ini sebenarnya juga merupakan penghalang bagi manusia untuk menemukan Allah. Ketika telah “lelah mencari” Allah, kecenderungan manusia dalam penggunaan kehendak bebasnya adalah lebih memilih untuk menyerah dan “menghibur diri” bahwa Allah yang akan datang menghampiri manusia. Lalu apabila kehendak bebas yang ada pada diri manusia berkompeten sebagai penghalang bagi manusia untuk menemukan Allah, mengapa Allah membiarkan manusia bersusah-payah mencariNya? Mengapa bukan Allah saja yang menghampiri manusia?

Adanya argumen bahwa segala sesuatu yang erat kaitannya dengan Allah memiliki ruang ataupun celah yang mungkin dapat disadari oleh manusia sebagai misteri[2], yang memiliki maksud tersembunyi, mungkin karena keterbatasan manusia sebagai makhluk ciptaan, yang tentu saja tidak memiliki kompetensi untuk mengenal PenciptaNya dengan benar (konsep kebenaran yang dimiliki manusiapun belum tentu “benar”). Ada kemungkinan lain lagi, yaitu dapat juga disebabkan oleh adanya keinginan dari pihak Allah agar manusia menghayati kemisterian tersebut dengan menggunakan iman, bukan melulu menggunakan akal.

Apakah manusia pernah membayangkan bahwa Allah sebenarnya (selalu) menunggu manusia untuk menerima “undanganNya”?[3] Pekerjaan menunggu bukanlah pekerjaan yang mudah karena memerlukan kesabaran. Ini menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang panjang sabar. Ia tidak menuntut manusia untuk menemukanNya dan menerima “undanganNya” dengan segera. Nampaknya Ia menginginkan agar manusia menggunakan kehendak bebasnya secara mutlak. Dengan demikian yang diharapkan adalah agar terjalin “kerjasama” yang baik antara Allah Sang Pencipta yang telah terlebih dahulu memberikan “undangan” pada manusia, terlepas dari adanya kenyataan terdapat kemungkinan dari pihak manusia untuk tidak menyadari keberadaan “undangan” tersebut, dengan manusia sebagai makhluk ciptaan yang dianugerahi kehidupan olehNya. Kerja sama antara prakarsa Tuhan dalam hal pemberian “undangan” dan respon manusia terhadap “undangan” tersebut merupakan dasar kehidupan Kristiani[4]. Mengapa dikatakan demikian? Kembali pada persoalan kealpaan kehidupan manusia. Banyak hal yang terjadi dalam hidup manusia, namun apakah hal-hal yang terjadi dalam hidup manusia tersebut memang dipahami sebagai hal-hal yang hanya sekadar mampu dilewati, tanpa menemukan Allah di dalamnya?

Mengkontemplasikan misteri kehidupan dalam doa adalah salah satu cara merespon “undanganNya”. Dengan berdoa, berarti manusia memiliki keinginan untuk menyadari dalam hati siapakah Allah yang sejati itu[5]. Suatu cara menemukan Allah, yang dicari bukanlah pengumpulan data umum saja (misal: Allah sebagai Bapa, Allah sebagai Sang Gembala, dll) tetapi lebih mengarah kepada suatu pengertian pada pribadiNya yang mendalam. Inilah esensi dari menemukan Tuhan dalam segala sesuatu yang ada pada kehidupan manusia. Bukan hanya sekadar mengetahui bahwa Allah itu eksis dalam hidup manusia, namun mengenal Allah secara mendalam. Dengan demikian Allah yang “ditemui” tidaklah berhenti sampai pada perihal manusia berhasil “menemukan” Allah, melainkan adanya relasi yang intim antara Allah dengan manusia. Relasi yang semacam ini menyingkirkan anggapan adanya kealpaan kehidupan ataupun malah menyingkirkan kealpaan kehidupan itu sendiri.

Setiap orang memiliki kisah tersendiri dalam hal menemukan Allah dalam kehidupan pribadi. Demikian halnya dengan Santo Ignasius dari Loyola[6]. Ia memiliki kisah tersendiri dalam hal menemukan Allah. Kisah pertobatan Ignasius bukanlah hasil susah payahnya, melainkan anugerah. Ignasius tidak mencari dan memilih Allah, melainkan Allah yang mencari dan memilih Ignasius. Inisiatif pengalaman pertemuannya dengan Allah adalah datang dari Allah sendiri. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Allahlah yang bertindak proaktif bagi pengenalan manusia akan diriNya, terlepas dari sisi kemanusiaan manusia yang penuh dengan keterbatasan sehingga memungkinkan adanya ketidaktahuan atau tidak menyadari tindakan proaktif Allah. Selain itu, Ignasius juga dapat sampai pada perihal menemukan Allah melalui saksi-saksi iman yang ia temui dalam bacaan maupun orang-orang yang ia jumpai langsung. Hal ini terjadi sejak mulai masa pertobatannya sampai akhir hidupnya[7].

Dari berbagai kajian di atas, dapat menimbulkan suatu pertanyaan apakah dalam proses menemukan Allah dalam kehidupan selalu (akan) ditemukan figur Allah yang bersifat personal? Apakah dapat dimungkinkan adanya proses menemukan Allah dalam kehidupan yang bersifat sosial? Bagi Ignasius, Allah dapat ditemukan dalam konteks personal-sosial. Allah ditemukan olehnya dalam figur baru, yaitu sebagai Raja baru, Raja sejati, yang ada dalam diri Yesus yang terlahir ke dunia[8]. Dengan kata lain, Allah dapat ditemukan dalam personifikasian yang dihayati oleh manusia itu sendiri.
Dalam proses manusia menemukan Allah, Allahlah yang berinisiatif untuk “mengundang” manusia. Namun bukan berarti manusia mencari Allah se-kena-nya, atau bahkan berlaku pasif saja. Dalam pengalaman Ignasius, ia berusaha agar kedatangan Allah dapat disambut dengan baik dalam hidupnya, agar pertemuan dengan Allah itu tidak berhenti sampai di situ saja. Dia menjalani latihan-latihan rohani, yaitu semua cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk mengatur hidup seturut kehendak Ilahi. Karena Allahlah yang mampu mengubah hati manusia, maka dalam usaha mempersiapkan disposisi hati[9], Ignasius memohonkan rahmat dari Allah.

Allah yang dialami Ignasius adalah Allah yang prihatin terhadap dunia, maka Ignasius berusaha menemukan dan mengikuti Allah yang bertindak dalam dunia. Mencari dan menemukan Tuhan dalam segala hal merupakan tema sentral dalam latihan rohani Ignasius[10]. Antara doa dan pekerjaan terdapat kesatuan batin yang mendalam, yang saling memperkaya. Doa dan pekerjaan menjadi lingkaran cinta kepada Tuhan dan sesama dan dengan demikian membangun pola penyerahan Yesus kepada Bapa dan kepada manusia. Mencari dan menemukan Tuhan dalam segala hal merupakan buah pikiran latihan rohani yang harus terus-menerus dipelihara dan dikembangkan dalam doa dan tugas pengutusan. Mencari dan menemukan Tuhan dalam segala hal berarti melibatkan diri sepenuhnya, berusaha sekuat tenaga sekaligus mempunyai kebebasan batin penuh kepercayaan bahwa segala-galanya bergantung pada Tuhan.

Penutup

Lalu bagaimana dengan hal yang sebaliknya? Apakah dimungkinkan menemukan segala sesuatu di dalam Allah apabila manusia telah “berhasil” menemukan Allah, bahkan Allah tinggal dalam hidup manusia? Inilah tantangan yang dihadapi oleh manusia sebagai bagian dari penghayatan akan Allah dalam hidup. Pemahaman mengenai Allah yang transenden harus juga diimbangi dengan pemahaman mengenai Allah yang imanen. Dengan adanya keseimbangan dalam pemahaman tentang Allah, maka Allah yang telah “ditemukan” pada segala sesuatu dalam kehidupan dapat melahirkan bentuk-bentuk penghayatan yang lain tentang kehidupan. “Finding God in all things” bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, namun ketika hal tersebut berhasil dijalani maka “finding all things in God” adalah hal yang tanpa disadari mengikuti, tentunya dengan tetap mengingat bahwa Allah adalah Allah yang imanen, yang dekat dengan manusia, yang di dalamNya manusia dapat menemukan segala sesuatu yang erat kaitannya dengan kehidupan.

Daftar Pustaka

Breemen, P. Van. 1983. Kupanggil Engkau dengan NamaMu. Yogyakarta: Kanisius.
Harjawiyata, Frans (ed). 1987. Pengalaman Akan Allah. Yogyakarta: Kanisius.

[1] Lih. Kupanggil Engkau dengan NamaMu. p. 89
[2] Ibid. p. 90
[3] Lih. Kupanggil Engkau dengan NamaMu. p. 91
[4] Ibid. p. 92
[5] Ibid. p. 93
[6] Lih. Pengalaman Akan Allah. p. 90
[7] Ibid. p. 91
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Lih. Pengalaman Akan Allah. p. 93

Bersama Anjal...


Berawal dari ketidakberhasilan kelompok kami untuk melakukan pelayanan sosial di panti asuhan “Sayap Ibu”, maka saya beserta kelompok dialihkan untuk melayani bersama dengan kelompok lain. Kesempatan yang sangat baik untuk melatih diri bersosialisasi dengan anak-anak jalanan telah saya dapatkan melalui kegiatan pelayanan sosial ini selama dua bulan. Setiap hari Sabtu, kami datang ke “SHINE”. Di sana kami berkumpul bersama terlebih dahulu dengan teman-teman relawan, dan dilanjutkan dengan acara masak bersama. Hasil masakan tersebut nantinya akan diberikan pada anak-anak jalanan. Seusai menyelesaikan acara memasak bersama, barulah kami semua menuju ke Grha Sabha untuk bertemu dengan anak-anak jalanan. Di sana kami bermain bola bersama dan bercanda-tawa bersama, kami mengajari mereka membaca dan berhitung, kami membacakan cerita/berdongeng untuk mereka. Bukan hal yang mudah untuk “mendekat” pada mereka. Pergulatan hidup yang keras membuat mereka “terlihat garang”, dan itu yang membuat kami harus tetap “menjaga jarak”. Namun hal tersebut bukanlah merupakan halangan bagi kami untuk “melayani”.
Kegiatan ini adalah kegiatan yang baru pertama kali saya lakukan, sehingga saya harus belajar menyesuaikan diri secara cepat. Dua bulan adalah waktu yang sangat singkat untuk melakukan kegiatan pelayanan sosial semacam ini. Dari kesemuanya ini saya dapat belajar membuka diri untuk “melihat” keadaan yang sebenarnya di “luar sana”. Ternyata selama ini saya hanya disibukkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan diri saya sendiri. Ini merupakan langkah awal bagi saya untuk mau “melakukan sesuatu” yang berfaedah baik bagi oranglain, terlebih sesama yang membutuhkan “uluran tangan”. Selain itu, kegiatan ini juga menyadarkan saya untuk “keluar dari zona aman” saya, dan beranjak dari eksklusivisme yang saya anut.
Tidak banyak orang yang sadar akan pentingnya membantu anak-anak jalanan. Membantu mereka untuk bersekolah kembali merupakan salah satu visi para relawan. Selama beberapa tahun kegiatan ini berlangsung, para relawan telah berhasil membuat beberapa anak jalanan bersekolah. Kegiatan ini tidak hanya mengandung unsur kasih, tetapi juga mengandung unsur pengaktualiasasian program pemerintah wajib belajar 9 (sembilan) tahun.

MENYINGSINGKAN LENGAN BAJU DEMI YANG TERLUPAKAN




Refleksi Pribadi Seusai Menonton Film “I am Sam”


Kesibukan dalam menggeluti profesi ternyata bukanlah hambatan bagi seorang perempuan yang membantu Sam dalam sebuah kasus, yaitu mendapatkan kembali hak asuh bagi Lucy Dawson (anak perempuan Sam). Perempuan ini adalah seorang pengacara terkenal dan profesional, yang dalam keseharian hidupnya harus terikat pada schedule. Saya sangat tersentuh dengan berbagai upaya keras yang ia lakukan dalam membantu Sam. Ia rela kehilangan klien, terlambat hadir dalam pertemuan penting, demi mendengarkan “curhat” dari Sam, yang adalah seorang ayah bagi Lucy secara fisik namun lebih terlihat seperti seorang adik bagi Lucy secara mental. Sam adalah satu dari sekian banyak orang “berkebutuhan khusus” yang memerlukan uluran tangan. Uluran tangan yang diberikan oleh pangacara perempuan tersebut sangatlah berarti bagi Sam, juga Lucy. Lucy berhasil “mendekap” ayahnya kembali, dan ia menerima keberadaan ayahnya yang sangat “terbatas” itu. Bagi Lucy dan juga pengacara perempuan dalam kisah ini, cinta dan kasih tidak memandang “keterbatasan”.


Orang-orang dengan keterbatasan secara mental memang sering dipergunjingkan khalayak ramai, namun apakah mereka akan menjadi objek “penguluran tangan” ataukah hanya akan menjadi bagian dari wacana sosial belaka?

Pendekatan Transformasi Sosial


Realita yang terjadi di kalangan bergereja adalah adanya rasa puas atas banyaknya jumlah jemaat yang hadir dalam suatu kebaktian/misa. Padahal, terkungkung oleh pelayanan “di dalam” dapat menyebabkan terjadinya “perkelahian” di dalam gereja. Untuk itu, pendekatan transformasi sosial adalah jawaban atas realita yang semacam ini. Sesuai dengan rumusan SAGKI (Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia) tahun 2000, Gereja St. Antonius Kotabaru juga menerapkan pendekatan transformasi sosial dalam bentuk berkomunitas. Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu orang-orang dan komunitas-komunitas untuk mempromosikan (menekankan) kewarganegaraan yang setia dan perubahan sosial. Terbukti dengan adanya komunitas-komunitas yang terbentuk, baik secara teritorial maupun kategorial, yang melakukan pelayanan “keluar” dengan menunjukkan adanya kepedulian pada negeri dan mendukung suatu proses untuk menjadi makin manusiawi dalam terang pemerintahan Allah.
Komunitas-komunitas yang terbentuk di dalam hidup bergereja St. Antonius Kotabaru dibagi menjadi dua bagian besar. Pertama, berdasarkan teritorial. Di dalam sebuah paroki terdapat sekitar dua puluh wilayah, dan tiap wilayah terdiri dari 10-20 KK. Kegiatan rutin tiap wilayah adalah melakukan pertemuan rutin, biasa disebut dengan Pemahaman Alkitab karena di dalam pertemuan tersebut men-share-kan isi Kitab Suci dan dikaitkan dengan pengalaman hidup. Yang bertindak sebagai naradidik adalah tiap umat yang tergabung aktif di dalam pertemuan ini. Umat menjadi subjek utama. Yang bertindak sebagai guru adalah seorang fasilitator yang bertanggungjawab atas keberlangsungan pertemuan ini. Umat dan fasilitator adalah mitra yang sederajat sehingga tidak ada yang mendominasi, semua memiliki posisi yang sama dalam keaktifan. Selain itu, tiap wilayah memiliki seksi-seksi, berkaitan erat dengan usaha pengatualisasian pelayanan “keluar”. Pelayanan sosial yang dilakukan biasanya mengadakan Persekutuan Doa untuk jemaat yang sedang sakit, pelayanan bagi orang-orang miskin dan janda-janda. Kedua, berdasarkan kategorial. Berbagai macam komunitas terbentuk, mulai dari kelompok anak-anak, sampai kelompok pelayanan altar. Kelompok anak-anak biasanya adalah kelompok lektor dalam misa. Kelompok pelayanan altar mempersiapkan pelayanan dalam misa.
Pendekatan transformasi sosial ini terjadi secara bertahap. Hal pertama yang dilakukan adalah mengamati apa saja yang diperlukan sebagai upaya perubahan sosial dalam hidup bermasyarakat yang menggereja. Setelah mengamati, perlu menentukan langkah-langkah apa saja yang akan diambil dalam mengupayakan perubahan sosial tersebut. Barulah bertindak. Tahap-tahap seperti inilah yang dilakukan oleh Gereja St. Antonius Kotabaru bagi terlaksananya pendekatan transformasi sosial.

Teologi dan Spiritualitas


Adanya sesi berdiskusi dalam kelompok saat proses pembelajaran di kelas memberikan kontribusi yang besar bagi saya. Berbagi pemahaman dengan teman-teman berkenaan dengan materi yang disampaikan oleh dosen membuat saya tersadar bahwa tidak ada patokan/parameter khusus ketika berbicara mengenai teologi dan spiritualitas. Teologi dan spiritualitas adalah dua hal yang tidak berada dalam lingkup stagnasi. Dua hal ini mengalami perubahan, bergerak, entah beriringan ataupun tidak, menunjukkan bahwa dinamika yang terbentuk terkadang dilupakan oleh pribadi-pribadi yang bergelut di dalamnya. Teologi dan spiritualitas didefinisikan bermacam-macam oleh para ahli atapun tokoh-tokoh “gereja”. Definisi yang terbentuk tentu saja berangkat dari titik tolak yang berbeda-beda sehingga tak jarang definisi-definisi mengenai teologi dan spiritualitas dapat bersifat kontradiksi satu sama lain atau mungkin juga dapat saling memperlengkapi. Menurut Drewes dan Mojau dalam bukunya yang berjudul “Apa itu Teologi?” terpapar definisi ilmu teologi, yaitu bidang studi ilmiah yang melayani gereja yang diutus ke dalam dunia dalam usahanya untuk memahami dan menghayati karya Allah, sesuai dengan Firman Allah yang hidup; hal ini berarti bahwa ilmu teologi harus secara kritis meninjau praktik dan misi gereja dalam terang kebenaran Firman Allah[1]. Buku ini juga berbicara mengenai spiritualitas. Spiritualitas Kristen mengarahkan pengikut Kristus untuk hidup lahir batin dalam kehadiran Allah, terarah pada damai sejahtera Allah di tengah pergumulan dan penderitaan dunia ini[2]. Definisi yang dipaparkan oleh Drewes dan Mojau nampaknya menunjukkan perbedaan apabila dibandingkan dengan definisi yang dipaparkan oleh Hardjana. Pemaparan Hardjana dalam bentuk tabel[3] menunjukkan secara gamblang bahwa penghayatan agama sangatlah berbeda dengan penghayatan spiritualitas. Apabila digambarkan dengan “diagram Venn”, pemaparan Hardjana tentang agama dan spiritualitas berbentuk dua lingkaran yang berdempetan namun tidak ada bagian yang saling mengiris. Bagian yang berdempetan ini menggambarkan bahwa ada bagian yang sama yaitu faktor/unsur pembedanya (suatu istilah dalam klasifikasi) saja. Dalam hal ini, agama dapat disejajarkan dengan posisi ilmu teologi, karena ilmu teologi juga dapat diidentikkan dengan agama. Dengan demikian pemaparan Hardjana dapat dibandingkan dengan pemaparan Drewes dan Mojau. “Diagram Venn” yang digunakan untuk menggambarkan posisi teologi dan spiritualitas menurut Drewes dan Mojau menghasilkan gambar dua lingkaran, dimana lingkaran kecil (yaitu: spiritualitas) berada di dalam lingkaran besar (yaitu: ilmu teologi). Diagram ini memiliki arti bahwa di dalam ilmu teologi terdapat spiritualitas (dengan seluruh keberadaannya; utuh). Yang berada di luar lingkaran kecil adalah kaidah-kaidah/syarat-syarat yang bersifat ilmiah, sesuai dengan definisi yang diberikan oleh Drewes dan Mojau bahwa ilmu teologi adalah bidang studi ilmiah. Pemahaman seperti ini adalah hasil diskusi kelompok saya, yang berbeda dengan hasil diskusi kelompok lain. Hal ini memperkuat pernyataan bahwa ada dinamika pada teologi dan spiritualitas.

Penghayatan saya mengenai agama dan spiritualitas mengalami perubahan semenjak berstudi di fakultas theologia. Pada dua semester awal, saya mengalami “Darkness of the Soul” (sebuah istilah yang terdapat dalam artikel mengenai kisah Mother Teresa yang selama masa pelayanannya ternyata mengalami “Darkness of the Soul”; dengan kata lain: tidak merasakan dekat dengan Tuhan, Tuhan serasa tidak hadir dalam hidupnya). Namun seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal menempa saya, penghayatan saya mengenai teologi dan spiritualitas mengalami pergeseran yang mencolok saat menginjak semester tiga. Seperti dalam diagram Venh yang kelompok saya gambarkan untuk definisi teologi dan spiritualitas menurut Drewes dan Mojau, saya merasakan bahwa unsur spiritualitas sangatlah diperlukan dan dapat saya rasakan ketika belajar ilmu teologi. Namun, saat ini saya baru tersadar bahwa teologi dan spiritualitas dapat bergerak leluasa tanpa bisa “dipagari”. Penghayatan bahwa di dalam ilmu teologi ada unsur spiritualitas hanya bertahan selama satu semester. Menginjak semester yang keempat ini, saya kembali merasakan “Darkness of the Soul”. Datang ibadah pagi setiap hari, datang ibadah malam, berdoa rutin, membaca buku renungan rutin, seharian di gereja pada hari Minggu (tuntutan pelayanan, bahkan seringkali saya dituntut menghadiri tiga kali jam kebaktian karena di tiap jam kebaktian ada tugas pelayanan) tetap saja belum dapat mengembalikan “cahaya dalam jiwa” saya. Sebuah pertanyaan juga sekaligus sebuah perenungan bagi diri saya pribadi, “Akankah darkness of the soul ini cepat berlalu daripadaku?”.

[1] Drewes, B.F, Julianus Mojau. 2007. Apa itu Teologi?. Jakarta: BPK Gunung Mulia. p. 17
[2] Ibid. p. 29
[3] Hardjana, Agus M. Religiositas, Agama, dan Spiritualitas. Yogyakarta: Kanisius, 2005. p. 74

Spiritualitas Tubuh


Tuhan menganugerahkan tubuh bagi manusia untuk difungsikan dan juga dipelihara. Sepengetahuan saya, yang banyak terjadi dan banyak dipergunjingkan bukanlah mengenai seberapa baik dan seberapa efektif bagian-bagian tubuh difungsikan, tetapi seberapa “ideal” bentuk tubuh. Idealisme semacam itu tanpa disadari mampu melumpuhkan “rasa cinta” pada tubuh yang dimiliki. Ketidakpuasan terhadap tubuh yang dimiliki adalah kecenderungan sikap manusia. Manusia selalu memasang parameter bagi dirinya sendiri agar dapat tampil lebih baik dan menarik, dalam hal ini manusia rela melakukan berbagai cara agar memiliki bentuk tubuh yang ideal. Keterselubungan makna bagian-bagian tubuh sebagai bagian yang penting bagi kelangsungan hidup manusia nampaknya sengaja diacuhkan oleh banyak orang, bahkan mungkin juga diacuhkan oleh gereja.

Berbicara mengenai hal lain, yaitu spiritualitas; apakah spiritualitas yang marak diperdebatkan, didefinisikan, dan ditelaah di dalam gereja juga di luar gereja mempertimbangkan bahkan melibatkan tubuh sebagai bagian di dalamnya? Dalam 1 Korintus 15:1-13 diceritakan mengenai percabulan; menggunakan kata “sark”, yaitu daging (yang dipenuhi dosa). Nampaknya pandangan gereja seakan didukung oleh ayat-ayat Alkitab bahwa tubuh dipertentangkan dengan Roh. Dalam Roma 12:1-13 pun demikian. Sejalan dengan pemikiran Rene Decartes, teolog Barat, mengatakan “Aku berpikir maka aku ada” menunjukkan ia menyetujui idea pemisahan tubuh dari jiwa/roh. Ada pemikiran lain mengenai hal serupa, yaitu yang hirarkis[1] “kekuatan dari jiwa melampaui kekuatan tubuh” dan yang dualisme[2] “adanya pemisahan antara tubuh dan roh karena terdapat perbedaan kualitatif”. Colleen M. Griffith menuliskan dalam artikelnya bahwa ia tidak ingin memilih salah satu, ia mengembangkan sendiri 3 hal: (1) Tubuh sebagai hal yang vital[3]; terdiri dari jutaan sel, bertambah tua, hadir di tengah dunia. (2) Tubuh sebagai tempat sosio kultural[4] dalam membentuk dan mengubah pandangan kita tentang tubuh. (3) Tubuh adalah sebagai hasil dari kesadaran dan kehendak[5].

Kurangnya “penghargaan” terhadap tubuh, seperti yang telah saya paparkan sebagai pendahuluan, sebenarnya juga telah mendarah-daging bagi saya. Saya tidak pernah puas dengan tubuh yang saya miliki, namun saya sangat sadar bahwa ketidakpuasan itu akan tetap bertahan karena saya enggan untuk merubah pola hidup yang sehat, misal: pola makan. Keengganan untuk “memelihara” tubuh pemberian Tuhan ini tentu saja membuat saya sadar bahwa hal ini juga merupakan penghambat bagi pengucapan syukur pada Tuhan atas tubuh. Setelah melakukan “Doa dengan Tubuh” yang dilakukan secara bersama-sama dengan kawan-kawan selama beberapa saat di ruang kelas E.1.1, saya menjadi sadar bahwa selama ini saya berkegiatan, melakukan segala sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidup saya, adalah dengan tubuh!!! Saya rasa “Doa dengan Tubuh” semacam itu perlu saya lakukan secara berkala, supaya saya selalu dapat mengingat bahwa keberadaan tubuh saya ini adalah penting bagi diri saya, sehingga saya juga dapat teringat untuk “memelihara” tubuh saya ini. Menciptakan suasana hening dan merasakan keberadaan tubuh juga dapat berfungsi sebagai relaksasi bagi saya, memang pada awalnya saya merasakan hawa panas merasuk dalam tubuh saya, namun tidak lama setelahnya saya merasakan tubuh saya “ringan” dan seakan keletihan fisik menjadi hilang perlahan. Keheningan yang tercipta dari merasakan keberadaan tubuh juga merupakan jembatan bagi saya untuk merasakan kehadiran Tuhan. Setiap bagian kecil dari tubuh saya adalah pemberian Tuhan, yang selayaknya wajib saya syukuri dan wajib saya fungsikan dengan baik.

“Spiritualitas tanpa tubuh?”, “Tubuh tanpa spiritualitas?” tidak lagi menjadi pertanyaan yang menggusarkan saya, karena saya telah mendapatkan jawabannya melalui sesi perkuliahan ini. Namun tidak berhenti sampai di sini saja, karena spiritualitas memiliki dimensi yang dinamis. Saya harus tetap berefleksi, “merasakan” tubuh, agar saya tidak lagi jatuh pada suatu kondisi “melupakan” atau bahkan “tidak cinta” pada tubuh saya.


[1] Griffith, Colleen M. 1999. Spirituality and the Body dalam buku yang berjudul Bodies of Worship: Exploration in Theory and Practice. Collegeville Liturgical Press. p. 71
[2] Ibid. p. 73
[3] Ibid. p. 76
[4] Ibid. p. 77
[5] Griffith, Colleen M. 1999. Spirituality and the Body dalam buku yang berjudul Bodies of Worship: Exploration in Theory and Practice. Collegeville Liturgical Press. p. 79