
Pendahuluan
Di era serba canggih saat ini, tantangan bagi kehidupan anak semakin kompleks apabila ditinjau dari beragam sisi. Kekompleksan tantangan tersebut mempengaruhi perkembangan anak, termasuk perkembangan secara moral. Berbicara mengenai moral secara umum, tidak dapat tidak membicarakan perihal tingkah laku karena tingkah lakulah yang dapat mengekspresikan bagaimana moral seseorang. Demikian pula yang terjadi pada anak. Dapat dilihat dari kenyataan yang ada bahwa tidak jarang ada anak yang diberi label “anak baik”, namun ada pula yang diberi label “anak nakal”, dsb. Pelebelan ini merupakan akibat dari tingkah laku dalam keseharian yang ditunjukkan oleh mereka; yang kemudian kembali lagi pada persoalan moral. Lalu, apakah moral itu? Adakah definisi yang dapat diberlakukan secara umum? Adakah parameter tersendiri dalam menilai moralitas seseorang? Bagaimana dengan anak sebagai subjek kajian dalam pembahasan mengenai moral?
Dalam perkembangan anak, input yang diberikan pada anak akan tertanam pada dirinya dan akan terlihat input apa saja yang telah diterima dari outputnya. Lalu, apakah pembahasan mengenai moral anak penting untuk dilakukan? Apakah moral yang ditanamkan pada anak baik oleh orangtua maupun guru merupakan bagian dari pendidikan? Perlu diingat bahwa keseragaman rentang usia bagi yang tergolong dalam kategori anak perlu juga mendapatkan sorotan selain sekadar menyoroti persoalan moral sebagai pendidikan, karena dalam tiap rentang usia memiliki kekhasan kemampuan masing-masing ditinjau dari banyak segi.
Moral: sebagai Misteri dan Kriterianya
Standar moral pribadi tidak bisa sama persis dengan standar moral yang dimiliki oleh oranglain. Namun sekalipun terdapat perbedaan, nampaknya tetap ditemukan adanya persamaan, seperti misalnya “mengutuk” sikap kekejaman, pengkhianatan, menipu, mencuri, membunuh, dsb. Memang apabila dikaitkan dengan bidang “ilmu” lain seperti etika, maka sikap-sikap yang sepertinya “tidak baik” dapat diterima keberadaannya dengan adanya berbagai pertimbangan tertentu. Terlepas dari hal itu, moral mendapat tempat yang khusus dalam kehidupan; sekalipun “tempat” yang dimaksud tidak spesifik dapat dijelaskan. Tidak satupun anak dapat mengingat pertama kali memulai untuk melakukan pertimbangan berkaitan dengan persetujuan atau penolakan moral[1]. Secara berangsur-angsur ketika beranjak dewasa, anak mulai membedakan persetujuan dan penolakan atas dasar moral dengan persetujuan dan penolakan yang berdasarkan atas dasar yang lain; seperti yang telah sempat disinggung di atas.
Kode moral implisit mungkin telah ada selama berabad-abad sebelum kode moral tersebut dibuat eksplisit. Dan lama sebelum kode moral tersebut pertama-tama dibuat eksplisit, dalam percakapan maupun tulisan, dalam peribahasa, perintah, atau undang-undang, orang mulai berspekulasi tentang hal tersebut, dan mulai secara sadar mencari penjelasan atau rasionalitas umum. Bagaimana kode moral muncul? Dan bagaimana orang mengetahui bahwa tindakan tertentu itu “benar” atau “salah”? Ada teori yang mengatakan bahwa tindakan tertentu itu “benar” dan yang lain “salah” karena Tuhan yang menyatakan demikian. Tindakan tertentu menyenangkan Tuhan dan tindakan yang lain tidak menyenangkanNya. Tindakan tertentu diberi pahala oleh Tuhan, di dunia ini dan di kehidupan sesudah mati, dan tindakan tertentu akan dihukum oleh Tuhan, di dunia ini dan di kehidupan sesudah mati[2]. Teori ini memunculkan pertanyaan, apakah kode moral ini bersifat arbitrer?
Setiap orang, termasuk anak, di dalam momennya yang rasional mencari kebahagiaan jangka panjangnya sendiri. Inilah kenyataannya. Manusia menemukan bahwa aturan tindakan tertentu itu meningkatkan kebahagiaan jangka panjang, baik bagi individu maupun masyarakat. Aturan tindakan ini disebut aturan moral[3]. Lalu, apakah anak telah mulai menyadari bahwa aturan moral “baik” bagi kelangsungan hidup mereka? Di sinilah tantangan sekaligus kewajiban orangtua, wali anak, maupun guru dalam mendidik anak dari segi moral.
Menanamkan Moralitas yang “Baik” dalam Diri Anak
Mendidik anak secara moral bukanlah hal yang mudah. Pendidikan semacam ini sepertinya terlepas dari segi kognitif, namun apabila ditelaah lebih lanjut justru moral terkait erat dengan segi kognitif anak. Berbicara mengenai pendidikan, juga berbicara mengenai tingkat kecerdasan murid. Terbukti dengan adanya sistem “peringkat”, “ranking”, dsb. Kecerdasan bukan hanya terdapat pada segi kognitif, tetapi juga pada segi moral. Kecerdasan moral dihidupkan oleh imajinasi moral, yaitu kemampuan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah dengan menggunakan sumber emosional maupun intelektual pikiran manusia.[4]
Tidak ada masa kanak-kanak yang sempurna. Masa kanak-kanak memiliki keterbatasan terkait dengan keterlibatan orangtua dalam mendidik. Tipe pengasuhan orangtua terkait dengan pendidikan moral bagi anak digolongkan menjadi tiga tipe: Autoritarian, Permisif, dan Autoritatif[5]. Orangtua yang digolongkan dalam tipe autoritarian adalah orangtua yang sangat keras, dan tampak sangat kuat dan mengancam dalam beberapa hal. Anak dipaksa untuk menerima nilai-nilai yang mereka ajarkan dan mematuhi cara mereka melakukan segala sesuatu pada setiap saat. Orangtua menetapkan peraturan rumah yang keras dan sulit dipatuhi terutama pada saat anak bertambah besar dan kebutuhan anak mulai berubah. Anak merasa bahwa orangtua mengalami kesulitan dalam memahami dan menerima anak. Lain halnya dengan orangtua yang bertipe permisif membuat suasana rumah yang penuh dengan rasa cinta, namun sama sekali tidak ada aturan dan disiplin sama sekali. Hanya sedikit permintaan dan batasan/larangan yang dikenakan pada anak. Anak tidak pernah dihukum atau diberi hadiah. Hidup dalam rumah tangga yang permisif semacam itu agak sulit dan membingungkan. Orangtua yang bertipe autoritatif mengajar anak dengan banyak cara. Mereka mengajar anak bagaimana berlaku secara dewasa dan dengan cara bertanggungjawab. Orangtua sangat mencintai dan mengungkapkan afeksi kepada anak. Anak merasa orangtua benar-benar mendengarkan anak dan mendorong anak untuk berpikir sendiri. Aturan-aturan yang diberlakukan di rumah cukup beralasan serta didasarkan pada usia dan kebutuhan khusus anak. Aturan tersebut berkembang seiring perkembangan waktu untuk memberi kesempatan kepada anak lebih bebas dan bertanggungjawab. Ada beberapa konsekuensi bila anak melanggar peraturan, namun tingkah laku anak lebih sering dihargai daripada dihukum. Anak tumbuh dengan keunikan rasa sebagai pribadi dan dengan kecakapan untuk menjadi mandiri.
Didikan orangtua sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral anak. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa didikan yang berbeda-beda tersebut sesuai dengan karakter orangtua. Orangtua memiliki “kedaulatan” dalam mendidik anak(-anak) mereka, yang dilakukan demi kebaikan anak. Dalam proses pendidikan tersebut, apakah anak menyadari bahwa itu semua demi kebaikan mereka? Lalu bagaimana dengan lingkungan sekitar anak di luar keluarga? Contoh: di sekolah. Seberapa berpengaruh terhadap anak? Orangtua memiliki tanggungjawab yang besar dalam mendidik anak karena selain “memperhatikan” anak di rumah, orangtua juga sepatutnya “memperhatikan” lingkungan bergaul anak. Sedikit banyak apa yang ditanamkan oleh orangtua di rumah akan terlihat dari tingkah laku anak saat anak bergaul dengan lingkungan sekitar. Timbul pertanyaan, siapakah yang menilai tingkah laku anak? Seberapa berpengaruh tingkah laku yang “baik” bagi kehidupan anak? Dan begitu pula sebaliknya, seberapa berpengaruh tingkah laku yang “tidak baik” bagi kehidupan anak?
Orangtua dan Anak
Menjadi orangtua merupakan sesuatu yang alamiah[6]. Bahkan dapat dikatakan bahwa menjadi orangtua merupakan “panggilan alam” yang diterima oleh mereka yang hidup berkeluarga. Tetapi hal yang tampak alamiah dan sederhana itu ternyata tetap saja mengandung banyak persoalan bila tidak diatur dengan baik. Kasih sayang dari orangtua menjadi modal dasar yang akan berpengaruh besar pada perkembangan moral anak. Anak yang hidup dalam asuhan penuh kasih dan perlindungan akan berkembang menjadi pribadi yang sehat, berkepribadian, dan mencintai serta menghormati orangtuanya. Sebaliknya anak yang hidup dalam tekanan, kekerasan, atau kebencian akan tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah. Adanya keterbatasan itu tidak menjadikan seseorang menjadi tidak berkembang. Hal ini justru dapat menjadi tantangan bagi kedua belah pihak untuk terus mengembangkan diri dengan saling memberi dan menerima.
Anak adalah putra-putri kehidupan para pemilik masa depan. Mereka harus dipersiapkan dengan dikasihi dan dididik menjadi diri mereka sendiri karena kelak tumbuh dewasa dan mandiri. Idealitas orangtua selalu ditempatkan dalam konteks hubungan antara orangtua anak dan lingkungannya yang dinamis sesuai perkembangan zaman. Orangtua tidak dapat memaksa anak menjadi seperti apa yang mereka inginkan, tetapi tidak menutup kemungkinan anak akan meniru tingkah laku “baik” dari orangtua. Oleh karena itu apabila orangtua menginginkan anak bermoral “baik”, tetapi tingkah laku yang ditunjukkan orangtua pada anak tidak demikian, maka apa yang orangtua tanamkan pada anak melalui perkataan ataupun aturang-aturan yang dibuat sedemikian rupa adalah hal yang tidak berarti. Tingkah laku orangtua digunakan anak sebagai cermin bagi hidup mereka. Anak beranggapan orangtua adalah figur yang “baik”, yang selayaknya dicontoh. Namun memang tidak menutup kemungkinan bahwa orangtua bertingkah laku “tidak baik”, sedangkan anak mendapatkan input dari luar rumah dan telah dapat menetapkan parameter bagi tingkah laku orangtua mereka sendiri. Anak juga dapat menilai tingkah laku orangtua mereka dan bisa jadi anak sadar apa yang “baik” sehingga tidak mengikuti tingkah laku orangtua mereka. Inilah yang disebut dengan kecerdasan moral.
Penutup
Anak menyerap berbagai input dari lingkungan sekitarnya seringkali terlambat untuk disadari oleh orangtua. Orangtua boleh jadi baru menyadarinya ketika anak menunjukkan tingkah lakunya. Tingkah laku “tidak baik” yang ditunjukkan anak berkemungkinan berasal dari orangtua mereka sendiri, atau dari lingkungan sekitar di luar rumah. Pendidikan moral bukan hanya perlu untuk diberikan pada anak, namun merupakan sebuah keharusan. Apabila pendidikan moral bagi anak telah dipandang sebagai sebuah keharusan dan telah dilakukan sebagai wujud tanggungjawab orangtua terhadap anak, tetap saja tidak menutup kemungkinan tingkah laku anak dapat berbeda dengan apa yang ditanamkan oleh orangtua. Inilah kenyataan yang ada. Anak hidup di tengah dunia yang “keras”, yang dapat menjadikan anak sebagai korban yang mengadopsi tingkah laku orang-orang di lingkungan sekitar. Orangtua memang berperan penting dalam mendidik anak secara moral, namun tetap kembali pada diri anak masing-masing yang menerima input; apakah mampu mengolah apa yang didapat dan mampu mengaktualkannya dalam tingkah laku keseharian. Kembali pada persoalan kecerdasan moral, yang memiliki tingkatan yang berbeda-beda pada setiap anak. Namun, kecerdasan moral dapat “dipaksakan” untuk “naik tingkat” seperti halnya ketika anak menginginkan ranking yang lebih baik maka harus belajar lebih giat.
Daftar Pustaka
Budiman, Leila Ch. 1999. Menjadi Orangtua Idaman. Jakarta: Kompas.
Coles, Robert. 1997. Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Hazlitt, Henry. 2003. Dasar-dasar Moralitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lighter, Dawn. 1999. 50 Cara Efektif Menanamkan Tingkah Laku Positif pada Anak. Yogyakarta: Kanisius.
[1] Lih. Dasar-dasar Moralitas. p. 10
[2] Lih. Dasar-dasar Moralitas. p. 11
[3] Ibid. p. 12
[4] Lih. Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak. p. 3
[5] Lih. 50 Cara Efektif Menanamkan Tingkah Laku Positif pada Anak. p. 18-19
[6] Lih. Menjadi Orangtua Idaman. p. vii

Tidak ada komentar:
Posting Komentar