
Tuhan menganugerahkan tubuh bagi manusia untuk difungsikan dan juga dipelihara. Sepengetahuan saya, yang banyak terjadi dan banyak dipergunjingkan bukanlah mengenai seberapa baik dan seberapa efektif bagian-bagian tubuh difungsikan, tetapi seberapa “ideal” bentuk tubuh. Idealisme semacam itu tanpa disadari mampu melumpuhkan “rasa cinta” pada tubuh yang dimiliki. Ketidakpuasan terhadap tubuh yang dimiliki adalah kecenderungan sikap manusia. Manusia selalu memasang parameter bagi dirinya sendiri agar dapat tampil lebih baik dan menarik, dalam hal ini manusia rela melakukan berbagai cara agar memiliki bentuk tubuh yang ideal. Keterselubungan makna bagian-bagian tubuh sebagai bagian yang penting bagi kelangsungan hidup manusia nampaknya sengaja diacuhkan oleh banyak orang, bahkan mungkin juga diacuhkan oleh gereja.
Berbicara mengenai hal lain, yaitu spiritualitas; apakah spiritualitas yang marak diperdebatkan, didefinisikan, dan ditelaah di dalam gereja juga di luar gereja mempertimbangkan bahkan melibatkan tubuh sebagai bagian di dalamnya? Dalam 1 Korintus 15:1-13 diceritakan mengenai percabulan; menggunakan kata “sark”, yaitu daging (yang dipenuhi dosa). Nampaknya pandangan gereja seakan didukung oleh ayat-ayat Alkitab bahwa tubuh dipertentangkan dengan Roh. Dalam Roma 12:1-13 pun demikian. Sejalan dengan pemikiran Rene Decartes, teolog Barat, mengatakan “Aku berpikir maka aku ada” menunjukkan ia menyetujui idea pemisahan tubuh dari jiwa/roh. Ada pemikiran lain mengenai hal serupa, yaitu yang hirarkis[1] “kekuatan dari jiwa melampaui kekuatan tubuh” dan yang dualisme[2] “adanya pemisahan antara tubuh dan roh karena terdapat perbedaan kualitatif”. Colleen M. Griffith menuliskan dalam artikelnya bahwa ia tidak ingin memilih salah satu, ia mengembangkan sendiri 3 hal: (1) Tubuh sebagai hal yang vital[3]; terdiri dari jutaan sel, bertambah tua, hadir di tengah dunia. (2) Tubuh sebagai tempat sosio kultural[4] dalam membentuk dan mengubah pandangan kita tentang tubuh. (3) Tubuh adalah sebagai hasil dari kesadaran dan kehendak[5].
Kurangnya “penghargaan” terhadap tubuh, seperti yang telah saya paparkan sebagai pendahuluan, sebenarnya juga telah mendarah-daging bagi saya. Saya tidak pernah puas dengan tubuh yang saya miliki, namun saya sangat sadar bahwa ketidakpuasan itu akan tetap bertahan karena saya enggan untuk merubah pola hidup yang sehat, misal: pola makan. Keengganan untuk “memelihara” tubuh pemberian Tuhan ini tentu saja membuat saya sadar bahwa hal ini juga merupakan penghambat bagi pengucapan syukur pada Tuhan atas tubuh. Setelah melakukan “Doa dengan Tubuh” yang dilakukan secara bersama-sama dengan kawan-kawan selama beberapa saat di ruang kelas E.1.1, saya menjadi sadar bahwa selama ini saya berkegiatan, melakukan segala sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidup saya, adalah dengan tubuh!!! Saya rasa “Doa dengan Tubuh” semacam itu perlu saya lakukan secara berkala, supaya saya selalu dapat mengingat bahwa keberadaan tubuh saya ini adalah penting bagi diri saya, sehingga saya juga dapat teringat untuk “memelihara” tubuh saya ini. Menciptakan suasana hening dan merasakan keberadaan tubuh juga dapat berfungsi sebagai relaksasi bagi saya, memang pada awalnya saya merasakan hawa panas merasuk dalam tubuh saya, namun tidak lama setelahnya saya merasakan tubuh saya “ringan” dan seakan keletihan fisik menjadi hilang perlahan. Keheningan yang tercipta dari merasakan keberadaan tubuh juga merupakan jembatan bagi saya untuk merasakan kehadiran Tuhan. Setiap bagian kecil dari tubuh saya adalah pemberian Tuhan, yang selayaknya wajib saya syukuri dan wajib saya fungsikan dengan baik.
“Spiritualitas tanpa tubuh?”, “Tubuh tanpa spiritualitas?” tidak lagi menjadi pertanyaan yang menggusarkan saya, karena saya telah mendapatkan jawabannya melalui sesi perkuliahan ini. Namun tidak berhenti sampai di sini saja, karena spiritualitas memiliki dimensi yang dinamis. Saya harus tetap berefleksi, “merasakan” tubuh, agar saya tidak lagi jatuh pada suatu kondisi “melupakan” atau bahkan “tidak cinta” pada tubuh saya.
[1] Griffith, Colleen M. 1999. Spirituality and the Body dalam buku yang berjudul Bodies of Worship: Exploration in Theory and Practice. Collegeville Liturgical Press. p. 71
[2] Ibid. p. 73
[3] Ibid. p. 76
[4] Ibid. p. 77
[5] Griffith, Colleen M. 1999. Spirituality and the Body dalam buku yang berjudul Bodies of Worship: Exploration in Theory and Practice. Collegeville Liturgical Press. p. 79

Tidak ada komentar:
Posting Komentar