Kamis, 26 November 2009

Finding God in All Things versus Finding All Things in God


Pendahuluan

Kehidupan terus bergulir tanpa mempedulikan apakah manusia, yang menjalani kehidupan itu sendiri, mempedulikan keberadaan kehidupan. Demikian halnya dengan manusia, tidak jarang pula menganggap kehidupan sebagai suatu hal yang patut atau sewajarnya bergulir, entah ditemukan makna di dalamnya, ataukah ditemukan keterlibatan Allah di dalamnya, ataukah malah tidak ditemukan hal yang berarti; dengan kata lain tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam diri manusia juga terdapat sikap acuh atau tidak peduli terhadap kehidupan. Beragam kemungkinan peristiwa dapat terjadi dalam hidup manusia, dan beragam pula kemungkinan cara yang dilakukan manusia untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya tersebut. Barangkali kenyataan mengenai adanya ketidakpedulian manusia pada kehidupan adalah akibat dari sifat dasar manusia, yaitu berkehendak bebas. Kehendak bebas yang dimiliki oleh manusia bukanlah berasal dari dirinya sendiri, melainkan berasal dari Allah, sebagai Sang Pencipta; berkaca dari kisah Adam dan Hawa yang “dengan sukses” memakan buah pengetahuan, inilah bentuk pernyataan bahwa Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebasnya. Allah telah melarang manusia untuk memakan buah tersebut, namun mengapa manusia dapat “dengan sukses” memakannya? Kehendak bebas, ya kehendak bebas-lah yang mampu memberi jawab atas pertanyaan tersebut. Namun yang menjadi persoalan adalah bukan mengenai keberadaan kehendak bebas dalam diri manusia dalam mengarungi kehidupan, melainkan mengenai adanya “penyelewengan” pemberian Allah pada manusia berupa keberadaan yang berkehendak bebas yang dijadikan sebagai legitimasi bahwa manusia berhak untuk melakukan apa saja dengan sesuka hati dalam mengarungi kehidupan. Apakah demikian yang dikehendaki oleh Allah sebagai Sang Pencipta?

Kealpaan Kehidupan

Apabila membicarakan perihal kehidupan manusia, sudah dapat dipastikan tidak akan pernah ada habisnya, karena memang sangat beragam peluang atau kemungkinan peristiwa yang terjadi pada hidup setiap orang. Tiap-tiap orang memiliki persoalan hidup masing-masing, dan persoalan hidup yang muncul, disadari maupun tidak, memiliki konsekuensi lahirnya respon, dalam hal ini respon yang “ideal” adalah berupa penyelesaian dengan cara tertentu, dengan pertimbangan tertentu, maupun berupa “masukan” dari oranglain. Demikian halnya dengan keberhasilan-keberhasilan yang mampu diraih oleh tiap orang, juga berkonsekuensi lahirnya respon. Respon yang ditimbulkan dapat berupa keadaan bahagia, bangga, dsb. Yang menjadi persoalan adalah apakah manusia menyadari bahwa kehidupan yang dialami, yang penuh dengan persoalan hidup dan juga penuh dengan keberhasilan, seringkali mendapat “tempat ke-sekian” bahkan dianggap sebagai hal yang wajar dan sepatutnya bergulir. Memang, kehidupan tidak menuntut adanya “penghargaan” terhadap dirinya; “penghargaan” di sini adalah berupa pemaknaan, dimana pemaknaan hidup pasti erat kaitannya dengan Allah yang dikenal sebagai Sang Pencipta, namun apakah esensi dari hidup apabila hidup hanya dipahami sebatas pada “kegiatan berbahagia atas keberhasilan” ataupun “kegiatan menyelesaikan persoalan”? Apakah keengganan memaknai hidup berhasil dilegitimasi oleh isi dari kitab Pengkhotbah bahwa segala sesuatu adalah sia-sia? Ataukah memang hidup itu sukar untuk dimaknai dengan argumen bahwa Allah sebagai “pihak” yang akan dimaknai juga sukar untuk “ditemui”? Di manakah Allah ketika kehidupan manusia terus bergulir tanpa dapat dihentikan walau sekejap saja? Di manakah Allah ketika manusia mulai sadar akan keberadaan hidup yang perlu untuk dimaknai? Apakah Allah enggan untuk “ditemui” oleh manusia? Apakah karena Allah sudah terlalu nyaman berada di “KerajaanNya” sehingga enggan untuk “ditemui”? Ataukah semuanya ini adalah kesalahan manusia? Bisa saja manusia mencari Allah di tempat yang salah. Atau bisa jadi manusia mencari “allah” yang salah? Lalu, di manakah “tempat” menemukan Allah? Apa saja yang harus dilakukan manusia guna menemukan Allah? Kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh manusia agar dapat menemukan Allah?

Tinjauan Teologis-Reflektif

Di manakah Allah? Apa yang Allah lakukan dan kerjakan “di atas sana”? Apakah bekerja di alam semesta ciptaanNya demi kebahagiaan dan damai sejahtera bagi manusia, seperti yang telah direncakan dari semula?[1] Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah Allah tidak dapat mengerjakan kebahagiaan dan damai sejahtera bagi manusia sambil menemui manusia? Pertanyaan ini apabila ditelaah lebih lanjut sebenarnya merupakan pertanyaan retoris, dimana pastilah menghasilkan jawaban “dapat”. Allah adalah Allah yang “Maha…”, segala sesuatunya dapat dilakukan, tentunya termasuk hal tersebut di atas. Pertanyaan ini juga dapat menghasilkan jawaban yang kontradiktif dengan jawaban pertama. Jawabannya adalah “Mana buktinya?” karena dalam kenyataannya, Allah sukar untuk ditemui oleh manusia.

Kembali pada kenyataan bahwa Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, maka nampaknya Allah ingin “menunggu” manusia agar tidak hanya berinisiatif menemukan Allah namun juga memikirkan berbagai macam cara untuk menemukan Allah, ataukah mencari Allah di manapun manusia berniat untuk mencari. Kehendak bebas ini sebenarnya juga merupakan penghalang bagi manusia untuk menemukan Allah. Ketika telah “lelah mencari” Allah, kecenderungan manusia dalam penggunaan kehendak bebasnya adalah lebih memilih untuk menyerah dan “menghibur diri” bahwa Allah yang akan datang menghampiri manusia. Lalu apabila kehendak bebas yang ada pada diri manusia berkompeten sebagai penghalang bagi manusia untuk menemukan Allah, mengapa Allah membiarkan manusia bersusah-payah mencariNya? Mengapa bukan Allah saja yang menghampiri manusia?

Adanya argumen bahwa segala sesuatu yang erat kaitannya dengan Allah memiliki ruang ataupun celah yang mungkin dapat disadari oleh manusia sebagai misteri[2], yang memiliki maksud tersembunyi, mungkin karena keterbatasan manusia sebagai makhluk ciptaan, yang tentu saja tidak memiliki kompetensi untuk mengenal PenciptaNya dengan benar (konsep kebenaran yang dimiliki manusiapun belum tentu “benar”). Ada kemungkinan lain lagi, yaitu dapat juga disebabkan oleh adanya keinginan dari pihak Allah agar manusia menghayati kemisterian tersebut dengan menggunakan iman, bukan melulu menggunakan akal.

Apakah manusia pernah membayangkan bahwa Allah sebenarnya (selalu) menunggu manusia untuk menerima “undanganNya”?[3] Pekerjaan menunggu bukanlah pekerjaan yang mudah karena memerlukan kesabaran. Ini menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang panjang sabar. Ia tidak menuntut manusia untuk menemukanNya dan menerima “undanganNya” dengan segera. Nampaknya Ia menginginkan agar manusia menggunakan kehendak bebasnya secara mutlak. Dengan demikian yang diharapkan adalah agar terjalin “kerjasama” yang baik antara Allah Sang Pencipta yang telah terlebih dahulu memberikan “undangan” pada manusia, terlepas dari adanya kenyataan terdapat kemungkinan dari pihak manusia untuk tidak menyadari keberadaan “undangan” tersebut, dengan manusia sebagai makhluk ciptaan yang dianugerahi kehidupan olehNya. Kerja sama antara prakarsa Tuhan dalam hal pemberian “undangan” dan respon manusia terhadap “undangan” tersebut merupakan dasar kehidupan Kristiani[4]. Mengapa dikatakan demikian? Kembali pada persoalan kealpaan kehidupan manusia. Banyak hal yang terjadi dalam hidup manusia, namun apakah hal-hal yang terjadi dalam hidup manusia tersebut memang dipahami sebagai hal-hal yang hanya sekadar mampu dilewati, tanpa menemukan Allah di dalamnya?

Mengkontemplasikan misteri kehidupan dalam doa adalah salah satu cara merespon “undanganNya”. Dengan berdoa, berarti manusia memiliki keinginan untuk menyadari dalam hati siapakah Allah yang sejati itu[5]. Suatu cara menemukan Allah, yang dicari bukanlah pengumpulan data umum saja (misal: Allah sebagai Bapa, Allah sebagai Sang Gembala, dll) tetapi lebih mengarah kepada suatu pengertian pada pribadiNya yang mendalam. Inilah esensi dari menemukan Tuhan dalam segala sesuatu yang ada pada kehidupan manusia. Bukan hanya sekadar mengetahui bahwa Allah itu eksis dalam hidup manusia, namun mengenal Allah secara mendalam. Dengan demikian Allah yang “ditemui” tidaklah berhenti sampai pada perihal manusia berhasil “menemukan” Allah, melainkan adanya relasi yang intim antara Allah dengan manusia. Relasi yang semacam ini menyingkirkan anggapan adanya kealpaan kehidupan ataupun malah menyingkirkan kealpaan kehidupan itu sendiri.

Setiap orang memiliki kisah tersendiri dalam hal menemukan Allah dalam kehidupan pribadi. Demikian halnya dengan Santo Ignasius dari Loyola[6]. Ia memiliki kisah tersendiri dalam hal menemukan Allah. Kisah pertobatan Ignasius bukanlah hasil susah payahnya, melainkan anugerah. Ignasius tidak mencari dan memilih Allah, melainkan Allah yang mencari dan memilih Ignasius. Inisiatif pengalaman pertemuannya dengan Allah adalah datang dari Allah sendiri. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Allahlah yang bertindak proaktif bagi pengenalan manusia akan diriNya, terlepas dari sisi kemanusiaan manusia yang penuh dengan keterbatasan sehingga memungkinkan adanya ketidaktahuan atau tidak menyadari tindakan proaktif Allah. Selain itu, Ignasius juga dapat sampai pada perihal menemukan Allah melalui saksi-saksi iman yang ia temui dalam bacaan maupun orang-orang yang ia jumpai langsung. Hal ini terjadi sejak mulai masa pertobatannya sampai akhir hidupnya[7].

Dari berbagai kajian di atas, dapat menimbulkan suatu pertanyaan apakah dalam proses menemukan Allah dalam kehidupan selalu (akan) ditemukan figur Allah yang bersifat personal? Apakah dapat dimungkinkan adanya proses menemukan Allah dalam kehidupan yang bersifat sosial? Bagi Ignasius, Allah dapat ditemukan dalam konteks personal-sosial. Allah ditemukan olehnya dalam figur baru, yaitu sebagai Raja baru, Raja sejati, yang ada dalam diri Yesus yang terlahir ke dunia[8]. Dengan kata lain, Allah dapat ditemukan dalam personifikasian yang dihayati oleh manusia itu sendiri.
Dalam proses manusia menemukan Allah, Allahlah yang berinisiatif untuk “mengundang” manusia. Namun bukan berarti manusia mencari Allah se-kena-nya, atau bahkan berlaku pasif saja. Dalam pengalaman Ignasius, ia berusaha agar kedatangan Allah dapat disambut dengan baik dalam hidupnya, agar pertemuan dengan Allah itu tidak berhenti sampai di situ saja. Dia menjalani latihan-latihan rohani, yaitu semua cara mempersiapkan jiwa dan menyediakan hati untuk mengatur hidup seturut kehendak Ilahi. Karena Allahlah yang mampu mengubah hati manusia, maka dalam usaha mempersiapkan disposisi hati[9], Ignasius memohonkan rahmat dari Allah.

Allah yang dialami Ignasius adalah Allah yang prihatin terhadap dunia, maka Ignasius berusaha menemukan dan mengikuti Allah yang bertindak dalam dunia. Mencari dan menemukan Tuhan dalam segala hal merupakan tema sentral dalam latihan rohani Ignasius[10]. Antara doa dan pekerjaan terdapat kesatuan batin yang mendalam, yang saling memperkaya. Doa dan pekerjaan menjadi lingkaran cinta kepada Tuhan dan sesama dan dengan demikian membangun pola penyerahan Yesus kepada Bapa dan kepada manusia. Mencari dan menemukan Tuhan dalam segala hal merupakan buah pikiran latihan rohani yang harus terus-menerus dipelihara dan dikembangkan dalam doa dan tugas pengutusan. Mencari dan menemukan Tuhan dalam segala hal berarti melibatkan diri sepenuhnya, berusaha sekuat tenaga sekaligus mempunyai kebebasan batin penuh kepercayaan bahwa segala-galanya bergantung pada Tuhan.

Penutup

Lalu bagaimana dengan hal yang sebaliknya? Apakah dimungkinkan menemukan segala sesuatu di dalam Allah apabila manusia telah “berhasil” menemukan Allah, bahkan Allah tinggal dalam hidup manusia? Inilah tantangan yang dihadapi oleh manusia sebagai bagian dari penghayatan akan Allah dalam hidup. Pemahaman mengenai Allah yang transenden harus juga diimbangi dengan pemahaman mengenai Allah yang imanen. Dengan adanya keseimbangan dalam pemahaman tentang Allah, maka Allah yang telah “ditemukan” pada segala sesuatu dalam kehidupan dapat melahirkan bentuk-bentuk penghayatan yang lain tentang kehidupan. “Finding God in all things” bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, namun ketika hal tersebut berhasil dijalani maka “finding all things in God” adalah hal yang tanpa disadari mengikuti, tentunya dengan tetap mengingat bahwa Allah adalah Allah yang imanen, yang dekat dengan manusia, yang di dalamNya manusia dapat menemukan segala sesuatu yang erat kaitannya dengan kehidupan.

Daftar Pustaka

Breemen, P. Van. 1983. Kupanggil Engkau dengan NamaMu. Yogyakarta: Kanisius.
Harjawiyata, Frans (ed). 1987. Pengalaman Akan Allah. Yogyakarta: Kanisius.

[1] Lih. Kupanggil Engkau dengan NamaMu. p. 89
[2] Ibid. p. 90
[3] Lih. Kupanggil Engkau dengan NamaMu. p. 91
[4] Ibid. p. 92
[5] Ibid. p. 93
[6] Lih. Pengalaman Akan Allah. p. 90
[7] Ibid. p. 91
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Lih. Pengalaman Akan Allah. p. 93

Tidak ada komentar:

Posting Komentar