Kamis, 26 November 2009

Pendekatan Transformasi Sosial


Realita yang terjadi di kalangan bergereja adalah adanya rasa puas atas banyaknya jumlah jemaat yang hadir dalam suatu kebaktian/misa. Padahal, terkungkung oleh pelayanan “di dalam” dapat menyebabkan terjadinya “perkelahian” di dalam gereja. Untuk itu, pendekatan transformasi sosial adalah jawaban atas realita yang semacam ini. Sesuai dengan rumusan SAGKI (Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia) tahun 2000, Gereja St. Antonius Kotabaru juga menerapkan pendekatan transformasi sosial dalam bentuk berkomunitas. Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu orang-orang dan komunitas-komunitas untuk mempromosikan (menekankan) kewarganegaraan yang setia dan perubahan sosial. Terbukti dengan adanya komunitas-komunitas yang terbentuk, baik secara teritorial maupun kategorial, yang melakukan pelayanan “keluar” dengan menunjukkan adanya kepedulian pada negeri dan mendukung suatu proses untuk menjadi makin manusiawi dalam terang pemerintahan Allah.
Komunitas-komunitas yang terbentuk di dalam hidup bergereja St. Antonius Kotabaru dibagi menjadi dua bagian besar. Pertama, berdasarkan teritorial. Di dalam sebuah paroki terdapat sekitar dua puluh wilayah, dan tiap wilayah terdiri dari 10-20 KK. Kegiatan rutin tiap wilayah adalah melakukan pertemuan rutin, biasa disebut dengan Pemahaman Alkitab karena di dalam pertemuan tersebut men-share-kan isi Kitab Suci dan dikaitkan dengan pengalaman hidup. Yang bertindak sebagai naradidik adalah tiap umat yang tergabung aktif di dalam pertemuan ini. Umat menjadi subjek utama. Yang bertindak sebagai guru adalah seorang fasilitator yang bertanggungjawab atas keberlangsungan pertemuan ini. Umat dan fasilitator adalah mitra yang sederajat sehingga tidak ada yang mendominasi, semua memiliki posisi yang sama dalam keaktifan. Selain itu, tiap wilayah memiliki seksi-seksi, berkaitan erat dengan usaha pengatualisasian pelayanan “keluar”. Pelayanan sosial yang dilakukan biasanya mengadakan Persekutuan Doa untuk jemaat yang sedang sakit, pelayanan bagi orang-orang miskin dan janda-janda. Kedua, berdasarkan kategorial. Berbagai macam komunitas terbentuk, mulai dari kelompok anak-anak, sampai kelompok pelayanan altar. Kelompok anak-anak biasanya adalah kelompok lektor dalam misa. Kelompok pelayanan altar mempersiapkan pelayanan dalam misa.
Pendekatan transformasi sosial ini terjadi secara bertahap. Hal pertama yang dilakukan adalah mengamati apa saja yang diperlukan sebagai upaya perubahan sosial dalam hidup bermasyarakat yang menggereja. Setelah mengamati, perlu menentukan langkah-langkah apa saja yang akan diambil dalam mengupayakan perubahan sosial tersebut. Barulah bertindak. Tahap-tahap seperti inilah yang dilakukan oleh Gereja St. Antonius Kotabaru bagi terlaksananya pendekatan transformasi sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar