
Refleksi Pribadi Seusai Menonton Film “I am Sam”
Kesibukan dalam menggeluti profesi ternyata bukanlah hambatan bagi seorang perempuan yang membantu Sam dalam sebuah kasus, yaitu mendapatkan kembali hak asuh bagi Lucy Dawson (anak perempuan Sam). Perempuan ini adalah seorang pengacara terkenal dan profesional, yang dalam keseharian hidupnya harus terikat pada schedule. Saya sangat tersentuh dengan berbagai upaya keras yang ia lakukan dalam membantu Sam. Ia rela kehilangan klien, terlambat hadir dalam pertemuan penting, demi mendengarkan “curhat” dari Sam, yang adalah seorang ayah bagi Lucy secara fisik namun lebih terlihat seperti seorang adik bagi Lucy secara mental. Sam adalah satu dari sekian banyak orang “berkebutuhan khusus” yang memerlukan uluran tangan. Uluran tangan yang diberikan oleh pangacara perempuan tersebut sangatlah berarti bagi Sam, juga Lucy. Lucy berhasil “mendekap” ayahnya kembali, dan ia menerima keberadaan ayahnya yang sangat “terbatas” itu. Bagi Lucy dan juga pengacara perempuan dalam kisah ini, cinta dan kasih tidak memandang “keterbatasan”.
Kesibukan dalam menggeluti profesi ternyata bukanlah hambatan bagi seorang perempuan yang membantu Sam dalam sebuah kasus, yaitu mendapatkan kembali hak asuh bagi Lucy Dawson (anak perempuan Sam). Perempuan ini adalah seorang pengacara terkenal dan profesional, yang dalam keseharian hidupnya harus terikat pada schedule. Saya sangat tersentuh dengan berbagai upaya keras yang ia lakukan dalam membantu Sam. Ia rela kehilangan klien, terlambat hadir dalam pertemuan penting, demi mendengarkan “curhat” dari Sam, yang adalah seorang ayah bagi Lucy secara fisik namun lebih terlihat seperti seorang adik bagi Lucy secara mental. Sam adalah satu dari sekian banyak orang “berkebutuhan khusus” yang memerlukan uluran tangan. Uluran tangan yang diberikan oleh pangacara perempuan tersebut sangatlah berarti bagi Sam, juga Lucy. Lucy berhasil “mendekap” ayahnya kembali, dan ia menerima keberadaan ayahnya yang sangat “terbatas” itu. Bagi Lucy dan juga pengacara perempuan dalam kisah ini, cinta dan kasih tidak memandang “keterbatasan”.
Orang-orang dengan keterbatasan secara mental memang sering dipergunjingkan khalayak ramai, namun apakah mereka akan menjadi objek “penguluran tangan” ataukah hanya akan menjadi bagian dari wacana sosial belaka?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar